Banyak Kisah Tragis Dibalik Trek Balap Liar

Banyak Kisah Tragis Dibalik Trek Balap Liar

by February 11, 2016

PenaMerdeka – Nama yang muncul di arena balap liar terasa asing di telinga kita, tidak umum. Ada Chalak, Ciko, Deking, Saproel, Bentoel dan lainnya. Dari keterangannya, kisah tragis kecelakaan sampai meregang nyawa di arena pun dipaparkan. Bukan sekali terjadi, sudah banyak nyawa yang hilang.

Yaa, mereka itu pengebut aktif yang getol ngetrek di arena balap liar Alam Sutera atau yang lebih beken disebut trek Sogo. Di arena itu, hampir setiap hari dikunjungi pembalap dan partisipan termasuk ratusan pebengkel modifikasi mesin yang konon datang bukan hanya dari kawasan Tangerang.

Dari berbagai sumber yang diterima penamerdeka.com, disela obrolan tercetus juga kisah rekan mereka yang tewas mengenaskan dalam arena. Menurut mereka, meskipun dalam trek itu beresiko, dan bahkan mengancam keselamatan jiwanya, mereka tetap enjoy melakoni.

“Paling akhir teman saya, Dede Belo pake Satria F,” jelas Benthoel. Ia tidak habis pikir soal kematian tragis rekannya itu. Tersiar kabar beberapa waktu lalu ada yang aneh, sudah 7 orang tewas tidak sampai dalam waktu sebulan.

“Dia ada di posisi kiri, ngetrek berdua dengan lawan. Pas start posisi sudah di depan. Aneh! Kayak ada yang ngedorong dan minggirin, motor tiba-tiba nyerong kanan terus sampai nabrak trotoar. Ia tewas di tempat, sama seperti korban sebelumnya yang juga meninggal di lokasi kejadian,” kisahnya.

Makin miris, rekan almarhum sesame pebalap ada yang memvideokan detik tewasnya Dede. Kelihatan jelas ia ujug-ujug menyamping dan menabrak trotoar, badan Dede pun tergeletak diam tak bergerak.

Kasus mereka yang tewas memang beragam. Ada yang sampai warga pun ikut meninggal karena terseruduk pembalap. ”Beberapa karena panik saat dibubarkan Polisi. Mereka ngebut nggak tentu arah akibatnya adu kambing antara yang ngetrek juga penonton. Yang mengenaskan rata-rata yang celaka di sini memang tewas di tempat,” kata Benthoel joki balap liar dari zona Kunciran.

Ia mengakui rata-rata pebali (pembalap liar) di sini sama sekali nggak mengindahkan unsur safety. “Hampir semua korban tewas nggak pakai helm juga sepatu. Kepala mereka cedera berat terbentur aspal,” kenangnya lagi.

Parahnya, tidak hanya pembalap yang tewas. Dua remaja putri yang disebut masih cabe-cabean (pacar pebali) juga tewas mengenaskan di lokasi kejadian. Foto mereka sempat beredar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

“Mayat mereka nggak berani dipindahin sebelum keluarga dan Polisi datang. Mereka terkapar sampai pagi. Penonton dan rekan pebali sempat memberikan bunga di samping jenazah,” jelas Chalak dan Ciko remaja tanggung yang getol ngetrek di wilayah ini. (madjid)

Komentar Berita Ini