Siswi Pingsan, SMK YP Karya Kota Tangerang : Sanksi Fisik Lumrah

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Fanny Dwi Iftian siswa SMK YP Karya, Kota Tangerang sempat mengalami pingsan. Bukan tanpa sebab, dikabarkan kejadian pingsan setelah Fanny mendapat sanksi fisik dari pihak sekolah berupa skot jump hingga puluhan kali.

Namun pihak sekolah menyebut bentuk hukuman tersebut lumrah lantaran di sekolah lain juga kerap menerapkan sanksi serupa.

Abdul (50) paman siswi sebelumnya setelah mendengar kabar keponakannya mendapat sanksi fisik hingga pingsan akibat tidak membawa perlengkapan pengenalan siswa baru sempat protes kepada pihak sekolah. Ia menyebut sekolah harus bertanggung jawab atas kejadian ini.

“Keponakan saya disuruh skot jump hingga 60 Kali, pertama disuruhnya 30 kali, lantaran tidak membawa perlengkapan saat pengenalan siswa baru. Akhirnya dia pingsan. Apalagi dia juga sedang menjalani puasa,” jelas Abdul.

Ia menambahkan, hukuman yang diterapkan hingga keponakannya mengalami pingsan dinilainya terlalu berlebihan dan kurang masuk akal.

Sementara pihak SMK YP Karya Cipondoh, Kota Tangerang, menampik sanksi fisik yang diterapkan mengakibatkan salah seorang siswinya jatuh pinsan.

Bahkan sekolah menyebut hukuman fisik yang diterapkannya tersebut merupakan sanksi yang umum alias lumrah. Sebab hukuman itu juga kerap diterapkan di sekolah lain dan tidak mengintruksikan siswa untuk skot jump.

“Kalau bending memang ada kalau skot jump tidak. Dan sanksi fisik itu (bending) hanya dua puluh kali,” kata Eko Dharmawan Kepala SMK YP Karya kepada wartawan, Selasa (29/8/2017).

Ia juga mengaku, saat Fanny masih di tengah lapangan pihak sekolah juga telah maksimal mengembalikan kondisi fisik siswinya.

“Kita berikan oksigen karena kita khawatir Fanny memang juga menderita asma. Maka itu kita periksa seksama kondisinya,” terangnya menjelaskan.

Dalam kesempatan itu ia menduga apa yang dialami Fanny bukan lantaran akibat sanksi fisik yang diterimanya tetapi karena reaksi atas persoalan lain.

“Faktor masalah di keluarga atau di lingkungan sekitar atau bisa jadi sedang membutuhkan perhatian,” kata Eko.

Sebelumnya Fanny Dwi Iftian siswi yang mengalami pingsan menuturkan, bersama puluhan siswa lainnya kurang melengkapi atribut pengenalan siswa baru sehingga dikumpulkan di tengah lapangan.

Kemudian kata Fanny melanjutkan sekolah memberikan sanksi berupa push-up dan skot jump.

“Waktu itu bu Hanni istrinya kepala sekolah yang menyuruh kami skot jump dan pus up,” kata Fanny kepada wartawan.

Ia mengaku awalnya ia merasa pusing disertai sesak nafas saat melakukan hukuman skot jump.

“Yang tidak melengkapi (atribut) dikumpulkan dan dikasih sanksi fisik. Kita melakukannya (skot jump/bending, red) sebanyak 55 kali. Tadi ada juga sejumlah siswa ikut pingsan karena tidak kuat juga seperti saya dan ada yang punya penyakit asma,” kata Fanny. (ceng)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Daftar Calon Sementara Anggota DPRD Kota Tangerang 2019

Dirgahayu RI 73 Jazuli Abdillah