T3 Bandara Soetta Belum Maksimal, Kemenhub Arahkan AP II Fokus Pada Arus Mudik

Mandeknya pengoperasian Terminal 3 (T3) Ultimate Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Cengkareng Banten ditenggarai lantaran persoalan listrik yang belum rampung.

Kementerian Perhubungan tak akan buru-buru menerbitkan izin operasi T3 Ultimate. Masih ada sejumlah PR yang harus dijerjakan oleh pihak terkait.

“Kita juga inginnya cepat-cepat, tapi safety. Pak Menteri Perhubungan (Ignasius Jonan) saya pikir mengutamakan safety. Keselamatan itu tidak bisa ditawar,” kata Direktur Bandar Udara Kemenhub Yudhisari Sitompoel seperti diberitakan detikcom, Minggu (19/6).

Sebelum dioperasikan Kemenhub telah mengetes jaringan di T3 Ultimate. Dari hasil yang dicatat banyak aspek yang belum dicapai terutama masalah keselamatan yang notabene dapat mengganggu jalannya operasi pelayanan di T3.

“Jadi saya pikir tidak usah terburu-buru. Angkasa Pura II konsentrasi juga dengan angkutan lebaran di Terminal 1, 2, dan 3,” kata Yudhisari.

Syarat agar terminal ini bisa beroperasi yakni 80 persen persyaratan sudah terpenuhi. Banyak persyaratan, antara lain ketersediaan garbarata hingga ambang batas suhu dalam terminal.

“Di sana itu temperatur sampai tanggal 16 Juni itu, tidak mencapai 25 derajat. Jadi tidak sesuai syarat kita. Harusnya AP II navigasi dan investigasi juga kenapa temperatur belum mencapai 25 derajat,” katanya menjelaskan.

Dia menjelaskan, sampai saat ini data-data lapangan belum sepenuhnya diterima Kemenhub dari Angkasa Pura II. Namun demikian, pihak Kemenhub dan Angkasa Pura II terus berkoordinasi. Contoh sukses kerjasama ini bisa dilihat dari beroperasinya Bandara Kualanamu Medan dan Bandara Ngurah Rai Bali.

Untuk kasus kelistrikan di T3 Ultimate ini, Kemenhub ingin pihak Angkasa Pura II segera menyelesaikan investigasinya.

“Tidak bisa beroperasi (kelistrikan )itu bukan masalah sederhana, harus kita cari, investigasi kenapa itu gagal. AP II kita harap investigasi, bukan cuma sudah nyala. Saya pikir ini butuh analisa panjang dari AP II dan Kementerian,” tutur Yudhisari.

Sebelumnya, pakar manajemen yang juga Komisaris Utama PT Angkasa Pura II Rhenald Kasali menyoroti dampak keekonomian dari ditundanya pengoperasian T3 Ultimate ini.

Tenggat waktu penundaan inipun tak pasti. Rhenald menuntut harus ada waktu pasti sampai kapan penundaan ini dilakukan. Sektor pariwisata hingga bisnis-bisnis terkait Bandara bisa terganggu.

Rhenald juga menuntut agar ada tenggat waktu yang jelas kapan T3 Ultimate bisa dioperasikan. Merespon permintaan itu, Yudhisari menyatakan Kemenhub harus memastikan T3 Ultimate benar-benar aman.

Karena menurutnya tanggung jawab pengoperasian Bandara tidaklah kecil. Kemenhub tak memberi tenggat waktu pasti, karena menunggu semuanya benar-benar siap untuk beroperasi.

“Kami tidak pernah kasih tanggal. Kami serahkan ke AP II. Kalau pelayanan navigasi, security kepada pengguna itu terpenuhi dan AP II menyatakan siap, kita cek semua siap ya pasti dikasih izin,” kata Yudhisari. (wahyudi/dbs/red)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Jazuli Abdilah ICMI Kota Tangerang
Disarankan