Petani Serang Kerap Gagal Panen Padi, Pengamat: Ini Langkah Penyelamatannya

KOTA SERANG,PenaMerdeka – Kawasan pertanian sawah padi di daerah Serang, Provinsi Banten potensi bisa beralih fungsi. Sebab sekarang disebutkan minim pasokan air, sejak 3 tahun belakangan hasil padi di sawah yang digarap petani selalu tidak memuaskan nyaris gagal panen.

Adalah Oded, Ma’il, Jaka, Janim dan para penggarap sawah lainnya di Kota dan Kabupaten Serang berkeluhkesah tentang sawah garapannya yang tidak memuaskan.

Apalagi yang di daerah Padek, Serang, sudah 3 tahun gagal panen terus. Mereka menjelaskan bahwa penyebab semua itu adalah kurangnya pasokan air yang masuk ke dalam sawah garapan mereka.

Menurut Mukodas Syuhada, pemerhati lingkungan asal Serang, padi tanpa air, gampang diserang hama wereng. Jika ada air di saluran irigasinya, para penggarap akan mudah membasmi hama dengan cara mengatur debit air sawah garapannya.

“Jika tidak ada air, maka hama tersebut sangat sulit dibasmi karena bersembunyi di bawah batang dan terlindungi rumput liar yang tumbuh di lahan sawah yang kering,” ucap Mukodas Syuhada seperti dikutip dari blog pribadinya.

Kebutuhan air banyak fungsi supaya petani tidak mengalami gagal panen. Masalah air ini merupakan salah satu dari sekian banyaknya persoalan tata guna lahan persawahan di Provinsi Banten, khususnya di Serang.

“Normalnya, hamparan sawah di Serang itu akan panen dua kali dalam setahun dan 1 ha nya akan menghasilkan gabah basah sekitar 6 ton sampai 7 ton,” ucap Mukodas.

Namun akhir-akhir ini, sejak adanya normalisasi dan perbaikan saluran irigasi Bendung Pamarayan yang disosialisasikan tahun lalu, hasil panennya hanya mencapai 50%, bahkan ada yang sama sekali mengalami gagal panen, apalagi sawahnya berada di posisi paling belakang dari saluran irigasi.

Pola Irigasi Kelabang Tidak Cocok Saat Kemarau

Meskipun di setiap titik-titik tertentu, terdapat pintu air yang mengalirkan air ke saluran sekunder dan primer. Saluran irigasi primer dan sekunder tersebut, polanya membentuk seperti pola kelabang, yang primer adalah badannya dan kakinya merupakan saluran sekunder.

Pola irigasi yang menyerupai kelabang raksasa ini, dalam keadaan normal, sebenarnya sangat adil dan merupakan sistem terbaik dalam pendistribusian air. Sawah bagian depan yang dekat dengan saluranirigasi primer, bagian tengah dan bagian belakang akan mendapatkan air yangcukup.

“Namun, dalam keadaan tidak normal, seperti musim kemarau atau saat ini ada normalisasi saluran irigasi, dimana debit airnya menjadi berkurang, maka pola kelabang ini menjadi sistem yang tidak adil,” ujarnya.

Karena Prustasi, Lahan Sawah Potensi Beralih Fungsi

Jika tidak segera diantisipasi ucap Mukodas, dan petani tidak kerap mengalami gagal panen padi lagi, maka wilayah persawahan Serang dalam 2 tahun ke depan potensi akan beralih fungsi menjadi lahan yang tidak menghasilkan padi.

Para penggarapnya yang sebagian besar hanya mengandalkan hidup dari hasil panen sawah garapannya akan menjadi pengangguran dan tidak produktif.

Dibentuk Kawasan Konservasi Air

Di sekitar proyek Bendungan Pamarayan, harus ada kawasan yang berfungsi sebagai Wilayah Konservasi Air (WKA). Di Baduy dan KBK, WKA ini disebutnya sebagai Lahan Tutupan yang berfungsi sebagai lahan penjaga sumber air menjaga stabilitas air dan mengantisipasi gagal panen.

“Sudah harus dimulai penanaman bambu di sekitar Bendungan Pamarayan. Ini merupakan solusi tercepat memenuhi kebutuhan air di lahan persawahan,” kata Mukodas menegaskan.

Dalam waktu 3 tahun, hutan bambu seluas 60 ha akan menyimpan cadangan air sekitar 1,8 juta liter dalam batangnya. Ini langkah bagus agar petani tidak meradang mengalami gagal panen padi.

Untuk saat ini, kebutuhan air bisa di suplai dari Sungai Ciujung, CiBanten dan Danau Tasikardi. Caranya dengan mengalirkan air dari ketiga sumber air tersebut ke saluran irigasi primer menggunakan pompa.

Meskipun Danau Tasikardi bukan untuk irigasi, tapi dalam keadaan darurat seperti ini, maka air di Tasikardi sangat dibutuhkan untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan air sawah-sawah di sekitarnya.

“Di sinilah peran Pemerintah Provinsi Banten untuk memfasilitasi biaya operasional kebutuhan air untuk persawahan di Serang,” kata Mukodas.

Selain itu, ada sejumlah langkah mengantisipasi gagal panen dan peralihan fungsi lahan, yakni normalisasi terhadap semua saluran irigasi primer dan sekunder serta saluran pembuangan yang ada di wilayah Padek Kota Serang. (redaksi)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Daftar Calon Sementara Anggota DPRD Kota Tangerang 2019

Disarankan
Dirgahayu RI 73 Jazuli Abdillah