Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Testimoni Geram Warga Soal Sengkarut Program PTSL 2017 Tangsel

KOTA TANGSEL,PenaMerdeka – Kantor ATR/BPN Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengklaim sudah menyelesaikan hampir 100% program sertifikat PTSL 2017. Disebutkan, program PTSL 2017 Tangsel sudah terdistribusi ke kelurahan.

Tetapi di Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Tangsel, dikabarkan sebelumnya bahwa Lurah setempat sempat kesal lantaran klaim BPN soal rampungnya sertifikat masyarakat di tingkat kelurahan tidak semuanya benar.

Cepi Shobirin Lurah Setu, mengatakan, di wilayahnya dari jumlah pengajuan 700 bidang program PTSL 2017 Tangsel baru selesai dan diterima pihaknya sebanyak 200 bidang saja.

“Udah jangan tanya-tanya soal PTSL, pusing saya, soalnya saya juga lagi kesel sama orang BPN. Soalnya saya juga dikomplain warga terus,” terang Cepi, Kamis (23/8/2018) lalu.

Sementara menurut ATR/BPN Kota Tangsel, karena program nawacita tahun 2017 diklaim sudah rampung, sekarang sedang menggarap PTSL untuk tahun 2018.

SHY (30) warga Kademangan, Kecamatan Setu adalah salah seorang yang ikut program PTSL 2017 Tangsel. SHY tercatat memang ikut dalam program tetapi sampai saat ini ia geram lantaran sertifikatnya tidak sesuai yang diinginkan. Luas tanah yang diajukan 200 meter, namun ketika sampai di tangannya hanya tercatat 60 meter saja.

“Saya juga bingung kenapa bisa seperti itu, apa memang ngukurnya itu harus berkali-kali atau bagai mana? Saya mengajukan dua bidang, tapi satu tidak bisa dipecah kata RT RW dan Kelurahan alasannya kalau dari waris harus yang lebih tua saja yang bisa. Padahal orang tua saya sudah membagi-bagikan tanah itu kepada kami,” terang SHY pekan lalu.

Ia menambahkan, beberapa hari lalu pernah diundang oleh pihak Kelurahan Kademangan untuk membahas kelanjutan program PTSL 2017. Saat itu yang hadir sekitar 100 orang pemohon sertifikat PTSL.

“Ada sekitar 100 orang yang diundang dalam program PTSL 2017 Tangsel. Saat itu juga dibagikan sertifikat tanah. Tapi yang dibagikan hanya 20 termasuk saya. Itu pun luas tanahnya salah, namun namanya benar, maka terpaksa harus diurus ulang,” jelasnya.

SHY mengatakan, terkait biaya ada yang diminta dari pihak kelurahan. Di Curug yang masih masuk wilayah Kademangan biayanya lebih besar, mencapai Rp 15 juta sampai dengan Rp20 juta.

Dia tidak tahu ukuran perbedaan biayanya seperti apa meskipun informasi yang didapatnya bahwa program PTSL tanpa dikenakan biaya alias gratis.

“Saya denger biayan program PTSL 2017 Tangsel segitu mas. Itu di daerah curug, makanya saya juga bingung. Kalau di sini saya ngak berani nyebutnya takut disalah-salahin,” tandas SHY.

Sementara W (34) warga RT 01/02 Kelurahan Kademangan, Kota Tangsel, ia mengaku tidak ikut menjadi peserta PTSL 2017 atau pun 2018 lantaran biaya pembuatannya yang sangat mahal.

“Biayanya nggak masuk logika, sedangkan dasar kepemilikan tanah saya sudah AJB. Dari pada saya ngeluarin duit 1,5 juta sampai dengan dua juta mending saya buat nambahin modal dagangan saya, soalnya AJB kan sudah bisa anggunkan ke Bank,” terang ‘W’ kepada penamerdeka.com beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, selain dirinya yang tidak ikut program PTSL 2017 Tangsel, sejatinya sanak keluarga dan warga sekitarnya pun banyak yang tidak ikut karena alasan yang sama.

“Paman dan warga sekitar juga banyak yang tidak ikut, karena alasanya biaya yang mahal. Selain itu juga banyak yang belum jadi sertifikatnya, seperti temen saya sampai belum jadi. Sekalinya jadi ukuran tanahnya salah, dari 200 meter menjadi 60 meter,” jelasnya merasa bingung. (redaksi/tim)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...