Pemerintah Inggris Desak Pembebasan Dua Jurnalis Reuters di Myanmar

36

LONDON,PenaMerdeka – Pemerintahan nggris mendesak agar segera membebaskan dua jurnalis Reuters yang mendekam di penjara Myanmar lantaran memberitakan krisis di Rohingya.

Pemerintah Inggris menyebutkan, vonis pengadilan pada kedua wartawan itu merusak kebebasan pers di Myanmar. Hakim Myanmar mengatakan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo wartawan itu bersalah karena melanggar undang-undang rahasia negara dan keduanya dipenjara selama tujuh tahun.

“Duta besar kami untuk Burma (Myanmar) yang menghadiri proses pengadilan sudah mengatakan, kami begitu sangat kecewa dengan keputusan dan vonis hukuman itu terhadap jurnalis Reuters. Kami menyerukan agar segera dibebaskan,” tegas Theresa May, Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May, Selasa, (4/8/2018).

Menurutnya, pada demokrasi mana pun, waratawan memang bebas melakukan pekerjaan mereka tanpa takut ataupun di intimidasi. Vonis ini dinilai merusak kebebasan media di Myanmar.

Mengutip dari berbagai sumber, kedua waratawan itu tengah investigasi atas kasus pembunuhan warga desa Rohingnya oleh aparat keamanan Myanmar.

Keduanya ditahan dan sedang menjalani proses pengadilan. Para aktivis kebebasan pers, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa (UE), dan negara-negara seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia terus mendesak agar dibebaskan.

Sementara itu, Stephen J Adler, Pemimpin Redaksi Reuters menambahkan, hari ini adalah hari tersedih bagi Myanmar. Lantaran, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo mendekam dipenjara.

“Kami tak akan menunggu saat kedua jurnalis Reuters mengalami ketidakadilan ini dan akan mengevaluasi bagaimana menghadapi ini dalam beberapa hari mendatang. Termasuk apakah meminta dukungan di semua forum internasional,” pungkas Adler. (uki/dbs)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tahun Baru Islam
Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...