Sambangi Pengrajin Kue, Saraswati Dorong Eksistensi Usaha Ekonomi Kerakyatan Tangsel

MENDORONG EKSIS USAHA RAKYAT

KOTA TANGSEL,PenaMerdeka – Masa pandemi covid-19 tercatat tidak semua sektor usaha mengalami penurunan omset. Termasuk usaha ekonomi kerakyatan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Contohnya pengrajin kue yang digagas Putri Ny Lauw tetap eksis menjalankam usahanya di Tangerang Selatan (Tangsel).

Pengrajin yang memproduksi kue bulan, kue keranjang, dodol asli, dodol wijen, dodol duren, justru dari usaha berbasis ekonomi kerakyatan yang dirintisnya mengalami peningkatan omset.

Bahkan penjualannya mengalami peningkatkan dua kali lipat ketimbang tahun sebelumnya.

Menurut Calon Wakil Wali Kota Tangsel Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, saat mengunjungi pengrajin kue Putri Ny Lauw di Ciater, Kota Tangsel, menyebut dengan kemauan pasti akan ada jalan untuk maju.

 

Ekonomi Kerakyatan
Rahayu Saraswati saat menyambangi pengrajin kue di Tangsel

Saraswati menegaskan, ekonomi kerakyatan bisa dari filosopi dari kue bulan ini, adalah persatuan dan kebersamaan serta kekeluargaan. Sehingga efeknya usaha kue bulan ini memang terus mengalami peningkatan omset.

“Kita bersyukur, ternyata tidak semua terdampak negatif akibat pandemi. Termasuk dari ekonomi kerakyatan kita. Pengrajin kue ini, Ibu Netty pemilik Pengrajin Kue Bulan Putri Ny Lauw yang mengaku pesanan kue-kuenya meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu,” kata Saraswati yang juga menjabat Waketum DPP Partai Gerindra kepada penamerdeka.com, Selasa (29/9/2020).

Menurutnya, pengrajin kue putri Ny Lauw di Tangsel berdiri sejak 2004. Dan merupakan pelanjut Ny Lauw yang sudah lebih terkenal di Jalan Pintu Air 10, Kota Tangerang.

Meski berbasis ekonomi kerakyatan, pemasaran pengrajin kue Putri Ny Lauw di Tangsel dipasarkan melalui pasar-pasar tradisional, modern dan supermarket.

Ini nantinya kata Saraswati, akan kita dorong juga kepada pengusaha kue dan lainnya supaya bisa mengikuti jejaknya.

Saraswati yang berpasangan dengan calon wali kota Tangsel Muhamad diajak melihat langsung pembuatan kue. Tidak hanya itu Saraswati juga langsung mencoba cara membuat kue.

Pantauan di lokasi, jari-jari lincah Rahayu Saraswati terlihat tidak kesulitan membentuk bulatan-bulatan adonan kue.

“Bentuk bulat dari kue ini melambangkan keutuhan serta kesatuan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya pun bermunculan yang akhirnya menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan,” pungkas Rahayu Saraswati.

Sementara Ibu Netty pengrajin asal Tangsel menyebutkan, dalam tradisi masyarakat Tionghoa, seluruh keluarga besar akan berkumpul untuk menyantap kue bulan.

Lalu dia menambahkan merayakan festival kue bulan yang jatuh pada setiap bulan penuh atau bulan purnama.

“Biasanya anggota keluarga yang terpisah jauh dengan keluarga, akan kembali berkumpul dengan keluarga besarnya. Oleh karena itu, perayaan kue Bulan ini menjadi hari raya masyarakat Tionghoa kedua yang terbesar selain dari Hari Raya Imlek,” kata Ibu Netty. (msg)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...