Catatan Pileg Bagian 2: Shock Terapi Caleg Pemula Kena Prank Jorjoran! Mimpi Jadi Dewan Melayang

TRANSAKSI SUARA IBARAT BURSA EFEK

JAKARTA,PenaMerdeka – Cerita jelang H-2 hingga mendekati waktu pencoblosan perhelatan Pemilu 2024 menarik dicermati. Khusus soal kontestasi Pileg, transaksi suara bahkan terang-terangan dengan nilai beragam disebut ibarat bursa efek. Malah tranding jadi obrolan lazim warung kopi.

Proses demokrasi ini setidaknya jadi shock terapi khususnya bagi caleg pemula yang tidak mempunyai sistem dan basis jaringan. Kendati mempunyai ketokohan dan mengantongi isi tas tidak menjamin mendulang suara signifikan. Alih-alih gengsi mimpi menjadi wakil rakyat malah bernasib buntung.

Informasi yang berhasil dihimpun, tidak sedikit caleg yang ‘berhasil diperdaya’ oleh oknum yang sejatinya hanya beredar saat musim pemilu saja. Mereka menebar janji mengklaim mampu mendulang suara banyak bagi kandidat.

Biasanya bermula saat caleg diberikan data puluhan atau bahkan ratusan calon pemilih. Lalu tergiur apalagi dengan jaminan bakal menggiring suara grassroots yang dijanjikan kepada caleg itu hingga tuntas ke TPS.

Sejumlah timses yang dikonfirmasi redaksi penamerdeka.com menyebut ternyata hasilnya nihil atau tidak sesuai dari yang dijanjikan oleh oknum tersebut. 

Rupanya benar saja nasib sial menimpa sang caleg, hingga selesai pencoblosan suara di TPS pada 14 Febuari 2024 dan bahkan setelah masuk masa rekapitulasi, oknum Timses gadungan itu disebut tidak nampak batang hidungnya. Malah, hingga pemilu sudah selesai perhitungan berjenjang di tingkat kecamatan atau PPK. 

“Boro-boro memberikan laporan hasil perolehan suara yang dijanjikan mas. Orangnya juga enggak ketahuan entah kemana sampai sekarang,” ungkap salah seorang Timses yang meminta namanya dirahasiakan.

Dia menambahkan, informasi dari para kandidat caleg lain pun banyak yang bernasib serupa. Disebutkannya, setelah mengeluarkan biaya politik mulai dari atribut caleg, program sembako dan bentuk sosialisasi lainnya bahkan menyiapkan serangan fajar yang nilainya puluhan hingga ratusan juta.

Tetapi hasilnya jauh dari harapan. Menurutnya, tidak sebanding dengan anggaran politik yang dikeluarkan para caleg. Kata Dia, hal ini menjadi pelajaran bagi para caleg yang bakal berkompetisi di ajang sama saat 2029 nanti.  

“Kalau menang sih tidak apa. Lah tapi udah keluar duit banyak malahan kalah. Begini banget yah pemilu 2024 sekarang,” katanya. 

Pada ‘kasus prank’ yang rata-rata menimpa caleg pemula adalah lantaran kandidat terlalu berangan angan panjang. Menurut beberapa sumber, juga karena nafsu politik yang kebablasan tidak mempunyai jaringan sehingga kemudian manuvernya tidak menemui sasaran.

Upaya dengan cara mengimingi uang jelang hari H pun tidak membuahkan hasil maksimal. Bukan tanpa sebab dimungkinkan karena tawaran caleg lain lebih besar. 

Contoh kasus pada beberapa jam sebelum warga menggunakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS), tak sedikit oknum-oknum timses menyambangi masyarakat langsung turun ke lingkungan.

“Mereka mengimingi amplop ke masyarakat asalkan bisa nyoblos caleg-nya. Ya lantaran dikasih saya terima. Kalau enggak salah ditawarkan untuk caleg tingkat Kota Tangerang,” jelas Suhaebi (36) seorang warga kepada penamerdeka, Jumat (1/3/2024).

Disebutkan, kendati telah diberikan sejumlah uang oleh seorang timses tadi, Dia mengaku tidak memilih caleg yang sempat ditawarkan oknum terebut. Pasalnya karena sebelumnya sudah mendapat nominal yang lebih besar dari kandidat lain.

“Ya tadi, meski katanya money politic karena dikasih ya saya terima saja,” ungkapnya jujur. (red)

Disarankan
Click To Comments