Mengukur Derajat Pilkada, Rano-Embay Imitasi, WH-Andika Pengalaman?

0 181

Mengukur Derajat Pilkada, Rano-Embay Imitasi, WH-Andika Pengalaman?

Oleh : Baehaqi, MA

Derajat kepemimpimpinan pasangan calon petahana Rano Karno-Embay Mulya Syarif dalam Pilkada 2017 belum banyak mempengaruhi pembangunan Provinsi Banten, disebut lantaran tidak mengantongi pengalaman alias hanya imitasi penerus kepemimpinan.

Perbedaan ini memang kentara sekali dengan pasangan Wahidin Halim- Andika Hazrumi (WH-Andika) yang dianggap sudah banyak mengantongi pengalaman dan prestasi dibidang pemerintahan.

Calon Gubernur Banten antara WH-Andika dan Petahana Rano dan pasangannya Embay dimana baru kali ini head to head menjadi Cagub di Provinsi Banten.

Penulis ingin menjelaskan terkait kenapa Rano Karno hanya sebagai produksi imitasi kepemimpinan karena sebelum berkiprah di Pemerintahan Provinsi Banten sebelumnya ia hanya sebagai wakil bupati di Kabupaten Tangerang.

Kemudian Cagub incumbent ini hanya mewarisi kepemimpinan Ratu Atut Chosiyah. Sehingga pola memimpinnya masih bersifat imitasi dan bahkan masih meraba raba. Hal tersebut terbukti, salahsatunya ketika ia salahseorang yang membidani Bank Banten yang ternyata bermasalah dengan hukum.

Beruntung saat ini PDI-Perjuangan masih sebagai partai pemenang di Pilgub mendatang, artinya masih mendapatkan perlindungan politis. Berbeda dengan rivalnya di Pilgub Banten kali ini, Wahidin Halim atau yang biasa di sapa WH. Tidak sedikit isu isu menerpa diri nya, namun semuanya kandas dimuka peradilan.

Wahidin Halim keluar sebagai pemenang. Tidak satu pun isu dan gugatan yang ditujukan kepadanya mampu meyakinkan hakim untuk menjatuhkan hukuman.

Kenapa bisa begitu…?

Lagi lagi, ini bukan soal perlindungan politis, berbeda dengan Rano Karno. ingat, Partai Demokrat hanya menempati urutan ke empat besar. Artinya, pak Wahidin Halim memang tidak terbukti melakukan pelanggaran saat menjabat Walikota Tangerang.

Hanya ada satu rumusan yang dapat mengukur pemimpin pak Wahidin Halim, yaitu pengetahuan dan pengalaman.

Wahidin Halim terkait dengan birokrasi sudah ditopang oleh pengetahuan agamanya, sehingga menjadi sosok pemimpin yang santun (berakhlaq) dan tercerahkan.

Selain itu, pengalaman nya di dunia birokrasi sudah teruji secara empirik. Artinya, pak Wahidin Halim tidak secara instan menjadi Walikota.

Beliau mengawali karir birokrasinya dari lurah, camat, asda, hingga walikota 2 periode di Kota yang Berahlakul karimah.
Maka sangat naif jika kita bertanya kepada beliau tentang “apa yg akan dilakukan saat menjadi gubernur Banten?”,

Karena aspek pengalaman nya sudah mencerminkan langkah nya kemudian. Jika dipaksakan pertanyaan itu, menurut hemat saya, hanya membuat malu kita sebagai penanya.
Tapi, tanya lah pak Wahidin Halim tentang “apa motivasi nya mencalonkan diri sbg gubernur Banten?”.

Menurut hemat saya, jawab nya karena pak Wahidin Halim tidak merelakan tanah Banten di pimpin oleh orang sangat minim pengetahuan dan minim pengalaman. Sebab, jika hal itu terjadi, Banten akan tetap menjadi Banten yang sekarang ini. Banten yg selalu tertinggal, Banten yg kurang progressif, dan Banten yg lemah.

Di kepemimpinan pak wahidin Halim kelak, Banten akan bermetamorfosa menjadi Banten yang siap bersaing dengan provinsi lainnya di Indonesia, Banten yang mendunia,Banten yg kuat akhlaq nya, Banten yang kuat SDM nya, serta Banten yang kuat ekonomi nya.

Sangat layak lah jika di Pilgub Banten 2017 kita beramai ramai memilih bapak Dr. H. Wahidin Halim, M.Si sebagai Gubernur Banten 2017-2022.

Hanya sinar matahari dan cermin yang bisa memantulkan bayangbayang. Jika kita bercermin pada fakta empirik, jelas terlihat bahwa pola kepemimpinan dua Cagub Banten ini jauh berbeda.

(Penulis adalah Dosen FAI UMT Kota Tangerang)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...