RSUD Kota Tangerang Kuatkan Pelayanan Persalinan ‘Si Jari Emas’

0 404

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang tengah mengembangkan pelayanan persalinan dengan Sistem Informasi Jaringan Emas (Si Jari Emas) yakni sebuah sistem informasi yang terfokus untuk mengantisipasi resiko berbahaya kepada bayi dan ibu melahirkan.

Disebutkan sistem ini dikelola dan disosialisasikan dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang dan diharapkan dapat diandalkan karena berkorelasi secara positif terhadap upaya menekan resiko kegagalan tinggi kepada pasien bersalin.

‘Si Jari Emas’ adalah Sistem Informasi dan Komunikasi Jejaring Rujukan Kegawatdaruratan Maternal. Namun sistem ini diintegrasikan dari RSUD, RS Swasta dan Bidan untuk keakurasian pertukaran informasi terkait kebutuhan rujukan pasien yang mebutuhkan pelayanan persalinan.

“Nanti ketika pasien yang akan mendapatkan perawatan bersalin, dan bidan yang menangani dan membutuhkan rujukan bisa menyampaikan short message service (sms) saja ke operator Si Jari Emas di Dinkes,” kata dr.Dyah Utami Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Kota Tangerang, saat diwawancarai Pena Merdeka.com Kamis (16/11).

Tentunya menurut Dyah Utami mereka harus melengkapi data dan penanganan kepada pasiennya dahulu sebelum dirujuk ke rumah sakit yang ditunjuk. Misalkan ketika membawa pasien minimal sudah di infus dan melengkapi data pasien tersebut.

Saat ini RSUD Kota Tangerang menjadi awal jejaring dengan melakukan penguatan sosialisai sejumlah program informasi pelayanan persalinan atau penanganan ibu yang akan melahirkan. Program tersebut akan terkoneksi dengan Puskesmas, Bidan dan Rumah Sakit Swasta. Dan RSUD Kota Tangerang juga menjadi salah satu rumah sakit yang ditunjuk untuk penanganan pasien tersebut.

“RSUD sendiri saat ini sudah mempunyai ruangan khusus untuk penanganan bersalin. Yakni IGD Maternal, sekarang demi meningkatkan pelayanan khususnya kepada pasien bersalin RSUD sudah punya ruangan khusus tidak bercampur dengan pasien umum,” ucapnya.

Sekarang ini sudah berjalan, dan dampak positifnya sudah dirasakan. Meskipun kami menerima atau melayani pasien tersebut tetapi jika kamar atau fasilitas lain penuh maka rekomendasinya bisa menggunakan rujukan rumah sakit yang lain.

“Sejak 2015 program ini sudah dicanangkan dan saat itu melihat perkembangan penanganan pasien persalinan di Kabupaten Tangerang. Dan sebelumnya sudah ada kesepakatan antar kepala Daerah, dalam hal ini Bupati Tangerang dan Pak Walikota Tangerang,” ucapnya.

Makanya semenjak 2016 Dinas Kesehatan Kota Tangerang sudah menjalankan program sistem informasi ini dan menurutnya ada hal yang positif dalam menangani proses persalinan pada ibu yang akan melahirkan. Terkait dengan sosialisasi kepada pihak rumah sakit swasta dan bidan juga sudah dijalankan oleh Dinas Kesehatan Kota Tangerang.

“Intinya keluarga pasien tidak perlu harus mencari rumah sakit ketika akan merujuk pasien. Atau bahkan pasien harus dibawa keluarganya sendiri tanpa mengetahui apakah kondisi rumah sakit kamarnya full atau tidak. Apalagi terkait fasilitas kebutuhan pasien juga terkadang keluarga tidak tahu. Jadi nanti bidannya tinggal melakukan sms (short message service) saja ke operator di Dinkes.”

Kata Dyah Utami melanjutkan, nanti pihak operator akan menginformasikan kembali kepada bidan soal rumah sakit yang menjadi tempat rujukan dengan memenuhi kebutuhan kondisi pasien ibu atau bayinya masing-masing.

Menurutnya kedepan diharapkan semua rumah sakit swasta, dan bidan di Kota Tangerang yang sudah resmi tergabung dengan Ikatan Bidan Indonesia akan disosialisasi tentang program rujukan sijariemas.

“Program ini sejatinya untuk memperkuat sistem informasi yang akurat soal kebutuhan pasien bersalin, dan kami tidak memberi batasan kepada pasien-pasien. Apakah dari Jamkesda, BPJS atau lainnya. Semua pasien diterima,” ucapnya menegaskan.

Langkah ini dilakukan demi menhindarkan resiko tertinggi yakni kematian pada bayi dan ibu bersalin. Meskipun kata Dyah bahwa persoalan menekan resiko tersebut harus ada andil dari pihak-pihak lain. Lebih dalam ucap Dyah, kondisi sosial ekonomi harus diperhatikan, pengetahuan terkait mengapa usia dini sangat beresiko untuk mengandung karena kebanyakan selaku orangtua masih ada sebagian yang ingin anaknya untuk menikah di usia muda.

“Padahal hal seperti ini sangat beresiko ketika mengahadapi persalinan karena dibawah usia 20 tahun akan mempengaruhi kesiapan mental dan janin yang ada di tubuh wanita,” tandasnya menjelaskan ketika ditanya terkait salahsatu resiko pada ibu mengandung dan masa persalinan.

Jadi menurutnya faktor resiko yang kerap melanda ibu yang mengandung dan akan melewati persalinan adalah tekanan darah tinggi. Pada ibu yang mengidap tekanan darah tinggi memang kata Dyah Utami sangat beresiko ketika melakukan proses persalinan.

“Maka dari itu pelayanan informasi yang tengah giat kita koordinasikan sejatinya untuk membantu para ibu di Kota Tangerang yang tengah mengandung mendapatkan pelayanan persalinan yang maksimal,” tandasnya menjelaskan. (adv)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...