Siapa yang Ketar-Ketir Ketika Inggris Cerai dari UE ?

Hasil referendum Brexit menyatakan Inggris harus ‘cerai’ dengan Uni Eropa (UE), banyak prediksi soal efek stabilitas ekonomi akan berpengaruh sampai kebelahan dunia lainnya termasuk Indonesia.

Setidaknya secara tidak langsung perkembangan dan pertumbuhan ekonomi potensinya bisa berdampak terhadap perdagangan internasional Indonesia.

Beberapa jam setelah hasil itu dikeluarkan, gejolak bursa ekonomi dunia bergerak ke arah sentimen negatif, pelaku ekonomi cukup ketar ketir memandang kondisi ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, sebagaimana diketahui saat ini pemerintah tengah menyelesaikan proses negosiasi dengan UE soal UE-CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement).

“Kalau Inggris keluar, berarti dia enggak ikut nantinya pada saat selesai perjanjian kita dengan UE. Kita kalau mau bikin dengan dia (Inggris), ya harus bikin sendiri (di luar UE-CEPA),” kata Darmin di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Jumat (24/6).

Sebetulnya, kata Darmin, potential loss lebih besar dirasakan oleh Inggris sendiri apabila keluar dari UE, ketimbang Indonesia. Mayoritas perdagangan Inggris bergantung pada negara-negara tetangganya di UE.

Mengutip AFP, Sabtu (25/6/2016), setidaknya dana sebesar 2,1 triliun dollar AS (sekitar Rp 28.350 triliun) kabur dari pasar lantaran investor khawatir terhadap hasil tersebut.

Investor lebih memilih instrumen investasi yang dinilai lebih aman seperti emas, mata uang yen Jepang serta obligasi blue chip. Beberapa bursa utama dunia anjlok, merespon hasil tersebut. Seperti di bursa Tokyo dan Paris, Brexit menyebabkan dua bursa ini longsor hingga 8 persen.

Sementara itu bursa Frankfurt Jerman anjlok hingga 7 persen. Adapun bursa London dan New York melemah lebih dari 3 persen pada penutupan perdagangan akhir pekan ini.

Bank sentral sejumlah negara mengambil langkah untuk mempertahankan kepercayaan pasar dengan menjanjikan penyuntikan likuiditas untuk mengantisipasi kerugian besar-besaran akibat “Brexit”.

Adapun mata uang Inggris, pound sterling melemah hingga 10 persen terhadap dollar AS ke level terendah, sebelum kemudian menguat sedikit. Mata uang euro juga melemah 2,6 persen terhadap dollar AS.

Berkebalikan dengan babak belurnya pasar modal, harga emas justru mencatatkan kenaikan hingga 5 persen dan mata uang yen Jepang melonjak 4,2 persen terhadap dollar AS dan 7 persen terhadap euro.

Adapun mata uang dollar AS diperdagangkan di bawah 100 yen untuk pertama kalinya sejak November 2013. (wahyudi/dbs)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Tuliskan pesan anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan. Penamerdeka.com tidak bertanggung jawab dengan isi komentar, tulisan komentar sepenuhnya tanggung jawab komentator sesuai aturan UU ITE