Kripto Ambruk Gila-gilaan, Bitcoin Banting Harga Hingga US$29 Ribu

KETAKUTAN EKSTRIM INTAI PEDAGANG

JAKARTA,PenaMerdeka – Harga kripto ‘cuci gudang’ ambruk gila-gilaan pada Selasa (10/5/2022) pagi. Hal itu lantaran ‘ketakutan ekstrem’ tengah mengintai para pedagang usai kenaikan suku bunga terbesar bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve atau The Fed.

Mata uang digital dengan kapitalisasi terbesar, yakni bitcoin, bahkan banting harga hingga ke level US$29 ribuan per keping. 

Harga bitcoin terendah sepanjang tahun ini dan tahun lalu. Bitcoin biasanya diperdagangkan di level US$35 ribu, bahkan sempat menyentuh US$68 ribu per koin.

Mengutip coinmarketcap.com, bitcoin jatuh 12,09 persen dalam semalaman atau 22,04 persen dalam sepekan terakhir menjadi US$29.999 per keping.

Ethereum juga bernasib sama. Koin digital peringkat kedua di 10 papan utama kripto tersebut jatuh 11,98 persen dalam semalam atau 22,06 persen dalam sepekan terakhir.

Saat ini, sekeping ethereum dihargai US$2.221 per keping, tadinya, ethereum bisa dibanderol di atas US$3.000an. Lebih parah lagi, cardano rontok 20,67 persen dalam semalam atau 23,26 persen dalam sepekan tersisa US$0,5962 per keping.

Kemudian, dogecoin, kripto favorit CEO Tesla merosot 18,50 persen atau 22,22 persen dalam sepekan. Koin dengan lambang anjing shiba inu dibanderol US$0,1025 per keping.

Selanjutnya, solana dan XRP amblas masing-masing 18,88 persen dan 15,13 persen. Sekeping solana kini dihargai US$61,92 dan XRP jadi US$0,4843.

BNB juga tertular kejatuhan kripto dihargai US$295,68 per keping. BNB terjun bebas 17,51 persen dalam semalam atau 24,15 persen dalam sepekan terakhir.

Mengutip Forbes, harga kripto ramai-ramai terjun bebas karena ‘ketakutan ekstrem’ tengah mengintai para pedagang setelah kenaikan suku bunga terbesar bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve atau The Fed.

The Fed mengumumkan menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin atau 0,5 persen sebagai upaya lanjutan mengatasi inflasi tertinggi selama empat dekade. Kenaikan 0,5 persen merupakan peningkatan tertinggi yang pernah dilakukan The Fed sejak Mei 2000 silam.

Kenaikan ini menyusul peningkatan 0,25 persen suku bunga acuan yang sudah dilakukan The Fed pada Maret. Sekarang suku bunga di AS mencapai 0,75 persen.

Selain itu, para pedagang juga masih tetap memperhatikan kondisi perang antara Rusia dan Ukraina.

“Selama seminggu terakhir, fundamental telah memasukkan ekspektasi suku bunga dan tidak ada yang bisa mengabaikan perang yang sedang berlangsung yang terus memberi tekanan pada kendala pasokan, terutama untuk komoditas,” ungkap Analis DailyFX Tammy Da Costa.

Menurutnya, tekanan pasar membebani pergerakan kripto dan ekuitas, termasuk kekhawatiran atas melonjaknya inflasi. “Masa depan koin atau token individu tetap meragukan,” tandasnya. (uki)

Disarankan
Click To Comments