JAKARTA,PenaMerdeka – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan penyebab suhu cuaca atau udara di Jakarta dan sejumlah wilayah Pulau Jawa, terasa pengap dan lebih panas dalam beberapa hari terakhir.

Bukan tanpa sebab, kondisi tersebut dipicu oleh minimnya tutupan awan hingga fenomena atmosfer global yang sedang berlangsung lantaran juga berkaitan dengan kondisi langit relatif cerah.

“Hasil pengamatan BMKG dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa suhu maksimum mencapai kisaran 34-36 celcius,” ucap Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, Senin (16/3/2026).

Kondisi tersebut terjadi karena tutupan awan sangat sedikit sehingga radiasi matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi sejak pagi hingga siang hari.

“Kondisi ini terjadi karena langit relatif cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit, sehingga sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal sejak pagi hingga siang hari,” katanya.

“Ketika awan konvektif yang biasanya membantu menahan dan memantulkan sebagian radiasi matahari tidak banyak terbentuk, pemanasan permukaan menjadi lebih kuat. Akibatnya, suhu udara terasa lebih tinggi dan kondisi siang hari menjadi lebih terik,” sambungnya.

Selain itu, BMKG juga mencatat perubahan kondisi atmosfer yang membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih sedikit. Salah satunya berkaitan dengan fase kering dari fenomena atmosfer global Madden–Julian Oscillation.

Fachri menjelaskan, fenomena tersebut membuat aktivitas pembentukan awan dan hujan melemah di wilayah Indonesia bagian barat.

“Situasi ini berkaitan dengan fase kering dari Madden–Julian Oscillation (MJO) yang sedang melintasi wilayah Indonesia bagian barat. Pada fase ini, aktivitas pembentukan awan dan hujan (konveksi) cenderung melemah,” kata Fachri.

“Ketika konveksi melemah, peluang terbentuknya awan hujan menjadi lebih kecil sehingga cuaca cenderung cerah. Dampaknya, radiasi matahari lebih dominan pada siang hari dan suhu udara di wilayah seperti Jakarta dan Jawa dapat terasa lebih panas dalam beberapa hari terakhir,” tambahnya.

Faktor lain yang turut memengaruhi kondisi panas tersebut adalah terbentuknya pusat tekanan rendah di wilayah utara Australia.

“Faktor lain yang berkontribusi adalah terbentuknya pusat tekanan rendah di bagian utara Australia yang menyebabkan awan-awan berkumpul di sana sehingga seolah terjadi ‘kekosongan awan’ di atas wilayah Indonesia bagian barat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *