JAKARTA,PenaMerdekaHarga minyak dunia bergerak sedikit lebih rendah pada perdagangan hari ini, Jumat waktu setempat, meski minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masih berada di jalur penguatan mingguan yang signifikan.

Hal tersebut setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mendorong premi risiko geopolitik di pasar energi.

Eskalasi konflik terjadi setelah Washington dan Teheran saling melancarkan serangan menyusul insiden terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.

Kondisi tersebut mengurangi lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut dan memicu kembali kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Seperti melansir dari Investing.com pada Sabtu (11/7/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent pengiriman September turun 0,3 persen menjadi USD76,08 per barel.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah WTI pengiriman Agustus melemah 0,7 persen menjadi USD71,58 per barel.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Oman dan Pakistan kembali mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Adapun serangan terhadap tiga kapal tanker minyak komersial di sekitar Selat Hormuz direspons militer AS pada Selasa dan Rabu dengan menyerang sekitar 170 target di Iran.

Target tersebut meliputi sistem pertahanan udara, lokasi penyimpanan rudal dan drone, serta lebih dari 60 kapal kecil Korps Garda Revolusi Islam.

Media pemerintah Iran melaporkan angkatan bersenjata negara itu membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump meningkatkan retorikanya terhadap Iran setelah serangan tersebut.

Dalam KTT Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO), Trump menyatakan gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir dan mengaku tidak lagi ingin berurusan dengan Iran. Namun, pada Rabu, ia juga menyebut Iran telah menghubungi AS dan ingin mencapai kesepakatan baru.

“Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan ‘perundingan.’ Kami telah menyetujuinya, tetapi Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka, dengan tegas, bahwa gencatan senjata telah berakhir!” tulis Trump melalui Truth Social.

Secara mingguan, harga minyak Brent telah menguat sekitar 5,7 persen, sedangkan WTI naik 4,4 persen.

Walaupun berbagai upaya diplomasi membatasi lonjakan harga minyak, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih mengalami penurunan karena perusahaan pelayaran memilih bersikap lebih hati-hati.

Berdasarkan data Kpler, jumlah kapal yang dipastikan melintasi Selat Hormuz turun selama dua hari berturut-turut hingga Kamis. Penyeberangan tercatat sebanyak 22 kapal, lebih rendah dibandingkan 30 kapal sehari sebelumnya.

Analis Pasar Senior Trade Nation David Morrison menilai perkembangan terbaru membuka peluang dimulainya kembali negosiasi perdamaian.

“Tepat ketika keadaan tampak semakin tidak terkendali, Presiden mengumumkan Teheran telah menghubungi untuk membahas kesepakatan,” ungkap dia.

“Ini cukup mengejutkan, tetapi didukung komentar para pejabat Qatar dan Pakistan yang menyatakan upaya memulai kembali negosiasi perdamaian sedang dilakukan,” kata Morrison menambahkan.

Morrison menilai lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya, sementara peluang dimulainya kembali perundingan tetap terbuka.

Ia juga menyebut Iran sejak lama ingin memperkuat kendalinya terhadap Selat Hormuz dan mendorong penerapan biaya bagi kapal yang melintas demi menjamin keamanan jalur pelayaran.

“Harga minyak akhirnya memperoleh kenaikan yang telah lama dinantikan. Namun indikator MACD harian masih berada di wilayah negatif sehingga reli lanjutan tetap tidak dapat dikesampingkan,” jelasnya.

Penulis: KieEditor: Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *