JAKARTA,PenaMerdeka – Presiden Prabowo Subianto mengajak negara-negara anggota BRICS memperkuat kolaborasi industrialisasi dan rantai pasok global untuk menghadapi tantangan serta menjaga pertumbuhan ekonomi negara berkembang.

“Izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama. Mari kita mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama,” kata Prabowo dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS Ke-18 di New Delhi, India, dikutip Senin (14/9/2026).

Prabowo menyampaikan, tantangan global, termasuk perubahan iklim dan kebencanaan, perlu dihadapi secara bersama oleh negara-negara BRICS dan Global South.

Sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Pacific Ring of Fire, Indonesia menghadapi berbagai kerentanan seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas gunung berapi.

Di sisi lain, Indonesia dikaruniai modal pembangunan berharga, mulai dari mineral kritis, logam tanah jarang, sumber energi terbarukan, hingga hutan yang krusial bagi paru-paru dunia.

“Kita harus melihat adanya hubungan yang erat antara ketangguhan menghadapi perubahan iklim dan pembangunan nasional,” ujar Prabowo.

Ia menegaskan Indonesia tidak sendirian menghadapi berbagai dinamika tersebut karena banyak negara di Global South dan anggota BRICS merasakan persoalan yang saling berkaitan.

Untuk itu, ia mendorong integrasi sumber daya, kapasitas produksi, teknologi, hingga pasar demi menghadapi tantangan secara kolektif.

Prabowo meyakini kekuatan ekonomi dan sumber daya BRICS dapat mempercepat investasi, memperkuat sektor industri, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta membuka peluang kemakmuran bagi masyarakat.

“BRICS pada dasarnya sudah memiliki rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya sehingga kekuatan yang sudah kita miliki ini dapat menghasilkan nilai yang lebih besar bagi kita semua,” imbuhnya.

KTT BRICS Ke-18 mengusung empat pilar utama, yakni ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan (sustainability) dalam merespons tantangan geopolitik.

Senada dengan Prabowo, Perdana Menteri India Narendra Modi menyoroti krisis global seperti pandemi, bencana iklim, dan gangguan rantai pasok yang menuntut penanganan lintas negara.

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping turut menyerukan pentingnya menjaga stabilitas rantai industri dan pasok global di tengah gangguan jalur pelayaran Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *