KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Menghadapi potensi cuaca ekstrem seiring peralihan menuju musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Banten memperkuat langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana secara menyeluruh.
Berdasarkan prakiraan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, musim hujan di Provinsi Banten akan mengguyur secara bertahap dari bulan November 2026, dengan puncaknya terjadi pada periode Januari hingga Maret 2027.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar menegaskan, pihaknya langsung mengambil langkah antisipasi internal usai menerima informasi komprehensif terkait siklus cuaca tersebut. Seluruh sarana dan prasarana pendukung penanggulangan bencana telah melalui proses pemeriksaan ulang secara berkala.
Sebagai bagian dari strategi mitigasi di lapangan, BPBD menyiapkan skema penempatan perahu darurat di titik-titik rawan strategis. Perahu-perahu tersebut akan disiagakan di tingkat kecamatan maupun kelurahan agar dapat diakses dengan cepat apabila terjadi bencana banjir di pemukiman warga.
BPBD Kota Tangerang telah melakukan pemetaan wilayah berpotensi tinggi terhadap genangan dan luapan air, yang sebagian besar berada di sekitar jalur aliran Kali Angke.
“Sejauh yang kami nilai, titik paling rawan itu mulai dari Periuk, lalu juga Ciledug di kisaran Angke, itu menjadi titik bagian yang cukup rawan, dan di beberapa titik lain biasanya sifatnya genangan. Cipondoh seperti Polor, semua juga masih masuk di jalur Kali Angke,” ungkap Mahdiar.
Dalam memantau kondisi harian, BPBD mengandalkan aplikasi pemantau ketinggian air Sipantau milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta berkoordinasi erat dengan jejaring Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) yang tersebar di berbagai kawasan untuk mempercepat respons kedaruratan.
Status hidrometeorologi juga bakal terus disesuaikan seiring dinamika intensitas hujan yang meningkat. BPBD Kota Tangerang Perkuat
Guna memastikan kesiapan operasional selama musim hujan, BPBD Kota Tangerang menyiagakan kekuatan personel dan penambahan armada pendukung secara terukur.
Pasukan siaga melibatkan hampir 300 personel yang disiapkan dan dibagi ke dalam sistem pergantian shift harian, dengan kekuatan yang selalu bersiaga berkisar antara 90 hingga 100 personel setiap harinya.
Selain itu, penanganan ini didukung oleh lebih dari 200 personel relawan yang tergabung dalam forum penanggulangan bencana untuk memperkuat posko di lapangan.
Untuk armada dan peralatan evakuasi, BPBD menambahkan 6 unit perahu baru guna memperkuat armada yang telah ada sebelumnya, serta menyiagakan motor tempel dan mesin pompa air guna penanganan genangan secara cepat.
Untuk itu, Mahdiar menekankan upaya mitigasi tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah, melainkan memerlukan keterlibatan aktif dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta saluran air di permukiman masing-masing.
“Walaupun sudah mulai masuk musim hujan tapi memang hujannya masih agak jarang, alangkah lebih baiknya kita bersiap, baik dari lingkungan masing-masing ataupun juga lingkungan sekitar tempat tinggal kita semua,” pungkasnya.







