12 orang yang meninggal dunia saat terjebak macet parah dalam arus mudik di wilayah Brebes, Jawa Tengah ditenggarai lantaran akibat langsung dari kemacetan hingga berpuluh-puluh jam.

Banyak yang mengkritik kinerja pemerintah terutama kepada Kementrian Perhubungan dibawah pimpinan Ignatius Jonan.

Dalam statmen yang dikeluarkan Menhub Ignatius Jonan justru dinilai tidak relevan karena tidak berani mengakui sebuah fenomena penyakit macet setiap lebaran yang belum terselesaikan, dalam kesempatan itu Menhub menganggap penyakit bawaan yang diderita korban sebagai penyebab kematian.

“Orang meninggal bisa dengan cara macem-macem. Kalau ada yang mengutip ada yang meninggal karena macet kok saya baru tau ini seumur hidup saya? Begini, kalau tidak mengidap penyakit sebelumnya, saya kira enggak akan meninggal,” kata Menhub disela di sela acara open house di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (6/7).

Dengan macet hingga 20 jam, jangankan yang punya penyakit bawaan, yang sehat saja bisa jadi akan drop kondisinya, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, Sri Gunadi, saat dimintai komentarnya soal peristiwa pilu yang berada di wilayahnya.

Kata Sri Gunadi menggambarkan, kondisi stress akibat mengalami kemacetan hingga 20 jam akan membuat kondisi seseorang drop.

“Karena mungkin yang jelas sudah punya penyakit bawaan, kemudian diikuti perjalanan yang begitu bikin stres orang lebih dari 20 jam ke atas dari Jakarta sampai Brebes,” tandas Sri.

Anggota Komisi V DPR Moh Nizar Zahro‎ mengatakan, tradisi mudik Lebaran tahun 2016 berubah menjadi bencana massal akibat macet yang berkepanjangan.

“Belasan korban meninggal dunia merupakan bukti buruknya koordinasi pemerintah dalam mengelola manajemen mudik tahun ini,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/7).

Atas tragedi mudik 2016 itu, dia pun memberikan beberapa catatan yang harus diperbaiki oleh pemerintah, ungkap politikus Partai Gerindra ini.

‎Lanjut dia, ‎selain karena kemacetan di Brebes juga tidak bisa dilepaskan dari penambahan jadwal Kereta Api Lebaran. Terbukti, berakibat pada jam buka tutup lintasan kereta yang makin sering jumlah kereta yang lewat.

“Saya sangat berharap agar Presiden harus lebih intensifkan koordinasi antara kementrian/lembaga khusus terkait jadwal liburan sekolah, sehingga bisa kurangi beban volume jalan darat, laut, udara,” imbuhnya.

Dia juga meminta ‎pemerintah membangun fasilitas keperluan Mandi Cuci Kakus (MCK), utamanya di jalan tol yang banyak dan mampu menampung jumlah pemudik yang jutaan lewat jalur tol dengan waktu dan hari yang sama. (wahyudi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *