Bahas Reformasi Agraria, 77 Organisasi 21 Negara Dunia Kunjungi Lebak Banten

63

KABUPATEN LEBAK,PenaMerdeka – Dalam rangka belajar soal pertanahan dan reformasi agraria, sebanyak 77 organisasi dari 21 negara akan kunjungi desa adat Kasepuhan Karang, Desa Jagakarsa, Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak, Banten.

Selain soal pertanahan, para delegasi perwakilan badan PBB, lembaga pemerintah, akademisi hingga organisasi masyarakat sipil, juga akan belajar tentang pembangunan pedesaan, masyarakat adat, perempuan, nelayan, HAM dan perubahan iklim.

Iti Octavia Jayabaya, Bupati Lebak mengatakan, nantinya, para delegasi yang belajar tentang reformasi agraria itu, akan dibawa ke sebuah forum diskusi Global Land Forum (GLF) yang akan digelar di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat (Jabar) pada 22-27 September 2018 mendatang.

“Para delegasi ini akan saling belajar dan berbagi pengalaman, serta mencari solusi mengenai hak atas tanah salah satunya di Kasepuhan Karang,” terang Iti, Kamis (6/8/2018).

Dalam pertemuan GLF ke 8 ini, sebelumya pernah berlangsung di berbagai negara, yakni di Roma-Italia (2003), Santa Cruz-Bolivia (2005), Entebbe-Uganda (2007), Kathmandu-Nepal (2009), Tirana-Albania (2011), Antigua-Guatemala (2013), dan terkahir di Dakkar-Senegal (2015).

Tak hanya Kabupaten Lebak, perwakilan dari 21 negara itu pun akan mendatangi Tanjung Karang di Jawa Barat, Pulau Pari di Kepulauan Seribu dan Maros di Sulawesi Selatan.

“Kami sedang siapkan pelayanan infrastruktur, petugas kesehatan, keamanan, peta lokasi wisata, produk UKM, hasil pertanian dan ketahanan pangan, kesenian dan budaya dan lainnya,” ungkapnya.

Wahyubinatara, perwakilan Rimbawan Muda Indonesia (RMI) menjelaskan, perwakilan dari berbagai organisasi dunia yang belajar soal pertanahan dan membahas reformasi agraria itu, akan tinggal bersama masyarakat di rumah warga. Mereka akan hidup layaknya kehidupan warga di desa Kasepuhan Muncang, sebuah desa adat di Banten Kidul.

“Tema-tema yang dibahas dalam GLF selalu memperdalam masalah di tingkat global yang dihadapi. Solusi yang ditawarkan komunitas global sekaligus memberi ruang alternatif atas jawaban-jawaban yang telah tersedia,” tandas Wahyubinatara yang juga pelaksana kunjungan peserta GLF 2018 ke Kasepuhan Karang. (abdul)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tahun Baru Islam
Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...