Pemkab Bekasi HUT RI Ke 75

Konon Terjadi 1981, Masyarakat Lebak: Tapi Tak Sedahsyat Banjir Bandang Sekarang

KABUPATEN LEBAK,PenaMerdeka – Masyarakat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang terdampak langsung bencana banjir bandang umumnnya tidak bakal menyangka peristiwa alam di wilayahnya bisa meluluhlantakan harta dan bendanya.

Begitu juga yang dialami separuh masyarakat di Desa Cipayung, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. Mereka tak percaya musibah hebat akan menerjang begitu dahsyat.

Pada Selasa (31/12/2019) menjelang akhir tahun berakhir, curah hujan sangat lebat dan terjadi sepanjang sehari semalam hingga keesokan pagi awal tahun.

Sekitar pukul 07:00 WIB, Rabu tanggal (1/1/2020) pada awal tahun air sudah mulai datang, namun masyarakat setempat masih menganggap hal yang biasa. Pasalnya kerap terjadi setiap musim penghujan datang.

Satu jam kemudian sekitar pukul 08:00 WIB awal Januari 2020 air datang tiba-tiba dengan membawa kayu dan material berat lainnya.

Mendadak masyarakat Desa Cipayung terhenyak kaget. Saat peristiwa terjadi hampir seluruh masyarakat masih berada di dalam rumah masing-masing.

Air bah itu juga langsung menggerus belasan rumah dan jembatan penghubung antara desa.

Menurut Momon, Sekretaris Desa Cipayung, di wilayahnya pernah terjadi kejadian serupa pada tahun 1981. Hanya saja saat itu air bah saja yang datang namun tidak disertai material pepohonan dari hutan.

“Menurut para tokoh dan sesepuh, peristiwa banjir bandang pernah terjadi pada tahun 1981, tetapi yang datang hanya air saja. Bahkan airnya sangat lebih besar dari yang sekarang. Kalau sekarang dibarengi dengan matrial pepohonan dan lainnya,” pungkas Momon, Minggu (5/1/2020).

Hingga berita ini terpublis, jumlah korban Banjir Bandang di Kabupaten Lebak, Banten, bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada delapan korban tewas akibat bencana dahsyat itu.

Polda Banten menyebut banjir bandang menerjang di enam kecamatan di Kabupaten Lebak, yakni Cipanas, Lebakgedong, Sajira, Curugbitung, Maja dan Cimarga.

Akibat musibah ini sebanyak 635 unit rumah rusak berat dan 1431 rusak ringan. Banjir bandang yang disebut sebagai bencana terbesar yang pernah terjadi di Kabupaten Lebak juga merusak 18 jembatan, 16 masjid, dan menghanyutkan 9 mobil serta 55 motor.

Sementara Mariana warga korban hantaman banjir bandang Sungai Ciberang juga tidak menyangka bahwa di lingkungan rumahnya akan terjadi musibah alam.

Dia merasa kaget dan tidak menyangka musibah ini terjadi begitu cepat dan apalagi mengancurkan desanya.

“Setelah solat Subuh saya akan meneriska tetapi terdengar suara gemuruh. Lalu saya penasaran pingin ngeliat. Seumur saya gak pernah ngelihat banjir sampai masuk ke area ini,” Mariana yang berprofesi sebagai guru.

Dia berharap semoga musibah ini bisa menabahkan keluarganya. Selain itu dirinya juga mengaku ihlas meski rumahnya mengalami rusak akibat diterjang banjir.

“Saya ihlas dengan kejadian ini. Semoga suami saya dan keluarga diberi kesabaran,” tukas Mariana. (red)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...