JAKARTA,PenaMerdeka – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN) harus harus bekerja politik ekstra untuk mempertahankan eksistensi jelang pemilu 2024.
Kedua partai itu harus mempertahankan basis pemilih dan cerdik menentukan pasangan calon presiden (Capres) 2024.
Sebab, hasil survei Litbang Kompas yang dikeluarkan Senin (23/10/2022) menunjukan, partai berbasis Islam itu potensi mengalami angka pergeseran massa pemilih yang signifikan.
Hasil survei juga menunjukan, potensi berkurang drastis massa pemilih justru akan semakin menurun tajam jika tidak sejalan dengan kemauan calon pemilih.
Yakni cerdik dan tepat menentukan figur pasangan calon presiden (Capres) pada pemilu yang digelar 2024 nanti.
Nantinya, jika tidak sejalan kekuatan massa pemilih tingkat grass root cenderung bergeser untuk meninggalkan partai berlambang ka’bah dan matahari tersebut.
“Apalagi, survei juga menangkap adanya potensi ‘perlawanan’ dari pemilih partai jika harapan mereka terhadap sosok calon presiden yang diidamkan tidak sesuai dengan calon presiden pilihan partai yang ia pilih,” kata Yohan Wahyu peneliti Litbang Kompas dikutip dari Harian Kompas, Senin (25/10/2022).
Sebelumnya pada periode Juni 2022, Litbang Kompas juga telah merilis hasil survei perihal potensi pergeseran pemilih dari PAN dan PPP ke partai Islam lain.
Untuk edisi hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan 24 September hingga 7 Oktober 2022 itu menunjukan angka pergeseran atau volatilitas pemilih PPP di angka 61,1 persen.
Nasib yang sama dialami PAN, partai yang didirikan saat reformasi dengan angka volatilitas atau pemilih yang potensi bergeser sebesar 59,4 persen.
Survei dilakukan secara tatap muka pada 1.200 responden di 34 provinsi. Responden dipilih secara acak menggunakan metode sistematis bertingkat.
Dalam metode survei itu disebutkan memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error kurang lebih 2,8 persen. (red)







