JAKARTA,PenaMerdeka – Menelisik momen pergantian akhir tahun 2024 jelang melakoni perjalanan hidup 2025, ada hal langka terjadi. Soal peristiwa ganti tahun antara kalender nasional dan ketetapan jatuhnya bulan Rajab 1446 Hijriah tepat jatuh pada 1 Januari, ketika kebanyakan orang di momen ini kerap mengkalkulasi diri evaluasi menyongsong tahun baru.

Menurut kalender hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), 1 Rajab 1446 Hijriah jatuh pada Rabu, 1 Januari 2025. Adapun malam 1 Rajab 1446 Hijriah jatuh pada Selasa, 31 Desember 2024.

Tim redaksi mencoba secara antropologi religi atau pendekatan keilmuan sosial budaya dan penggabungan norma agama dengan sejumlah sumber yang berhasil dihimpun yakni mengambil momen pergantian tahun.

Rahasia dibalik pergantian tahun bertepatan pada Rajab menurut sejumlah sumber, lantaran Tuhan yang maha kuasa memberi kesempatan manusia bermuhasabah, alias berkoreksi diri pasca rutinitas sepanjang tahun 2024. Sebab, karena 2025 nanti menjadi para pelakon dunia kembali namun dalam kondisi sudah menempuh evaluasi.

Ad-Dailami meriwayatkan dari Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah yakni sang istri nabi, bahwa mendengar Rasulullah SAW menyatakan dalam sabdanya:

“Allah mengucurkan kebaikan pada empat malam, yaitu malam Adha, malam Fitri, malam Nisfu Syakban, dan malam pertama pada bulan Rajab.”

WARNING SYAHWAT DUNIAWI

Syarifudin Peneliti Ilmu Sosial Budaya dan Antropologi Religi berpendapat, lingkup kehidupan sosial apapun termasuk masuk ke ranah politik harus dipengaruhi penguatan nilai agama.

img 20241231 wa0009
Ilustrasi.

Sebab kata Dirinya, kecenderungan konflik sosial kemudian prilaku koruptif pun yang terjadi salah satunya karena pendalaman nilai agamis yang minim.

Lebih dalam juga dikatakannya, manusia terkadang layaknya hewan yang suka bergerombol mencari majikan ternak. Tidak pernah puas mencari bukan sekedar nilai kecupan, tetapi kadang dipengaruhi unsur tamak. Kerap mengantonhi angan angan ingin mendapat lebih dari sekedar cukup sehingga terjadi prilaku memyimpang bahkan koruptif. 

Hal ini juga ditegaskan oleh nabi dalam hadisnya: 

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048).

“Ini nafsu, syahwat dunia, kalau gak ditekan bakal justru kita yang terjebak. Karena ketergantungan sama lingkungan. Karena juga prinsip ingin terpandang dalam strata lingkungan keluarganyakah, pekerjaannya, bertetangganya kah atau lainnya,” ucapnya Senin, (30/12/2024).

Karenanya dalam pengalamannya, imu Antropologi Religi yang digelutinya tidak hanya diyakini sejumlah orang menjadi hal positif. Tetapi juga sarana solusi, apalagi pendekatan agama kata banyak pakar satu alat studi akurat dalam melihat reaksi kehidupan sosial setiap orang.

“Maka bulan Rajab merupakan suci, momentum untuk berbenah,” tukas pria yang kerap disapa Ustad Udin ini kepada penamerdeka.com.

Dirinya melanjutkan, riwayat yang tidak diragukan dalam agama harus menjadi pemantik menjalani semua aspek. Maka itu bulan Rajab termasuk disebut asyhurul hurum. Bulan Hijriah masuk dalam bulan haram (suci) yang momentumnya harus ditangkap.

RECOVERY POLITIK DI BULAN RAJAB

Dari riwayat shahih disebutkan, karena terdapat kesuciannya seruang kanjeng nabi kala itu bahkan pada bulan haram atau suci ini ada larangan untuk menggelar perang. Umat Islam di masa lalu, sangat menghormati bulan haram ini sehingga tidak boleh melakukan yang diserukan nabi karena imbasnya pertikaian.

Bulan Rajab juga mendapat julukan lain yaitu Al-Ashamm atau artinya “yang tuli”, serta disebut juga bulan yang damai. Dalam bulan ini tidak terdapat suara senjata dan pasukan perang.

img 20241231 wa0010
Ilustrasi.

Rasulullah SAW mengumumkan larangan perang, kecuali untuk melindungi diri dari musuh. Pada momen ini, dianjurkan untuk berbagi atau shodaqoh atau sunah lainnya seperti sholat tahajud, zikir, memohon ampunan dan juga solawat nabi. Maka penyebaran Islam kala itu dilakukan dengan cara damai.

Maka itu menurut Ustad Udin, tak terkecuali bahwa Indonesia telah rampung memilih wakil rakyat (Pileg) dan presiden dan wakil presiden (Pilpres) pada Febuari 2024 lalu. Lantas rakyat Indonesia pun telah menggunakan hak pilihnya mencoblos pemimpin di tingkat kota, kabupaten hingga provinsi saat digelarnya Pilkada serentak 27 November 2024.

Catatan yang dihimpun redaksi, tahun politik pilkada melibatkan banyak pihak secara lembaga dan individu. Jumlah pemilih yang ikut serta dalam gelanggang Pilkada serentak 2024 mencapai 207,1 jiwa di 37 provinsi pada Pilgub, 508 kabupaten/kota untuk kontestasi Pilbup dan Pilwalkot.

img 20241231 wa0008
Ilustrasi.

Dinamika tahun politik 2024 Pileg, Pilpres dan Pilkada melahirkan berbagai macam peristiwa politik dan bahkan tidak sedikit ditemukan gesekan.

“Jadi momen pergantian tahun ini tidak hanya sekedar euforia menyalakan kembang api atau meniup terompet, mungkin akan lebih hebat lagi kalau gesekan imbas tahun politik jangan estafetkan, berkepanjangan. Antara kerabat, saudara, teman dan lainnya terllibat konflik panjang cuma gara gara beda kepentingan calon. Sudahi saja, karena yang menang dan kalah sudah ada izinNya,” ucap Ustad Udin. 

Dia pun menyampaikan apa yang difirmankan Allah dalam QS: Ali ‘Imron Ayat 26 yang berbunyi:

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الۡمُلۡكِ تُؤۡتِى الۡمُلۡكَ مَنۡ تَشَآءُ وَتَنۡزِعُ الۡمُلۡكَ مِمَّنۡ تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ‌ ؕ بِيَدِكَ الۡخَيۡرُ‌ؕ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ

Artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

“Dalam ketentuan Rajab menunjukan hal yang asyik asyik banget buat kita cermati. Baik itu calonnya, politisi, pendukung, relawan, lembaga negara atau birokratnya sekalipun. Kita doakan agar Indonesia, presidennya, gubernurnya, bupatinya, wali kotanya anggota dewannya amanah NKRI jadi makmur,” lanjut Ustad Udin.

POLITIK ALA RASULULLAH DAMAI JUGA  MEYAKINI ESANYA

Buya Arrazy Hasyim salah seorang ulama muda Pengasuh Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah dalam kajiannya menekankan soal pentingnya tauhid dalam berpolitik.

Buya Arrazy dalam tayangan di Caffe Rumy dengan judul“Apakah Rosululloh Berpolitik”? Dan pernah diterbitkan penamerdeka, judul: Politik Ala Rosululloh menyampaikan kedamaian yang dilakukan nabi ke 25 dalam kontek umat dan ummaro saat bernegara.

img 20241231 wa0011
Ilustrasi.

Politik di Indonesia menurut Buya Arrazy tercantum dalam palsafah Pancasila sila ke satu (1). Dimana berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Yakni tentang keesaan tuhan dalam semua hal yang secara hakekat ada dalam surat Al Ikhlas. Yakni kalau soal arena kehidupan dikehendaki secara rububiyah Allah Azza wa Jalla.

Dan para pencetus Pancasila pahlawan Indonesia, tidak sembarangan menempatkan bunyi tentang keesaaNya diletakan pada sila nomor satu (1). Ada hakekat dalam dan yang termakna. 

Buya Arrazy yang kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar) mengatakan, dahulu tentu saat zaman nabi belum ada survei calon atau partai politik.

Alat surveyor elektabilitas dan lainnya hanya sebagai alat ukur orang dalam rangkaian ikhtiyar memenangkan satu kontestasi. DiperintahNya pun harus dengan catatan tawakal. Jangan bahwa survei melebihi sebuah takdir.

“Itulah yang diturunkan kepada nabi. Qul huwallahu ahad yang artinya Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Ini tentang nilai nilai keesaan Allah dalam semua aspek. Iya, nabi berpolitik tetapi kepada cahaya dan yakin atas rububiyah kehendak Allah SWT,” ucap Buya Arrazy.

Berpolitik ala nabi kata Buya Arrazy, tidak melulu semuanya harus mengandalkan dengan kemenangan. Sebab semuanya berangkat untuk kepentingan rakyat, tidak pernah dilakukannya musuh memusuhi apalagi ada balas dendam.

“Jadi jangan dibayangkan politik nabi kalau benar kemudian memaksakan kebenaran. Hijrah ke Madinah dari Kota Mekah untuk menghindari peperangan. Dan kembali menguasai Mekah pun tidak dengan nafsu (kekerasan/penganiayaan). Mengikuti gerak Ilahiyah, bukan dengan gerakan nafsu politik kekinian (yang sekarang sering terjadi). Sehingga nantinya hanya berharap dapat ridho Allah SWT,” tegasnya.

Dia menegaskan bahwa politik nabi adalah tanpa mencederai yang berbeda pandangan. Sangat disayangkan jika ada oknum politisi semangatnya untuk menjadi berkuasa di birokrat atau hanya merebut kekuasaan. (red)

Loading...