JAKARTA,PenaMerdeka – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan, pendekatan padat karya sebagai strategi utama rehabilitasi sektor pertanian pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Melalui skema tersebut, petani tidak hanya memulihkan lahan pertaniannya, namun juga dapat mengantongi pendapatan selama proses pemulihan berlangsung.
Mentan Amran mengatakan, sawah-sawah yang rusak akan diperbaiki kembali dengan biaya yang ditanggung pemerintah, namun langsung melibatkan langsung pemilik lahan.
“Jadi saudara kita punya pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat. Ini perintah langsung Bapak Presiden (Prabowo Subianto),” ujarnya melalui keterangan resmi dikutip, Minggu (18/1/2026).
Menurut Amran, konsep padat karya memastikan seluruh pemilik sawah terlibat aktif dalam proses rehabilitasi, sebab petani bekerja di lahannya sendiri dan mendapatkan penghasilan harian yang cukup untuk kebutuhan keluarga.
“Pendapatan hariannya cukup untuk harian, bekerja di sawahnya sendiri. Sementara pengolahan tanah, benih, dan irigasi ditanggung pemerintah pusat,” jelasnya.
Ia menyebutkan, di Aceh terdapat sekitar 10.000 hektare lahan sawah yang direhabilitasi dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 200.000 hari orang kerja (HOK) yang dibayar secara harian.
Sementara itu, untuk percepatan pemulihan, pemerintah menargetkan lahan dengan kategori rusak ringan hingga sedang dapat diselesaikan maksimal dalam waktu tiga bulan.
“Khusus Aceh, bersamaan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang ringan dan sedang maksimal tiga bulan sudah selesai,” ujar Mentan Amran.
Selain mengandalkan tenaga petani, Kementan juga menerapkan teknologi dalam rehabilitasi.
Traktor disiapkan untuk pengolahan tanah, perbaikan jaringan irigasi dilakukan secara intensif, sementara lahan yang tertimbun lumpur dalam akan ditangani dengan teknologi drone.
“Ini teknologi baru yang kita gunakan,” katanya.
Di tengah proses pemulihan, Mentan Amran memastikan ketahanan pangan tetap aman dengan stok beras nasional saat ini mencapai 3,2 juta ton dan dinilai kuat memenuhi kebutuhan tiga hingga enam bulan ke depan.
“Saudaraku, sahabatku yang kena bencana, pangan tidak ada masalah di tiga provinsi, bahkan seluruh Indonesia,” tegasnya.
Berdasarkan data Kementan, total lahan pertanian terdampak bencana di tiga provinsi mencapai sekitar 98 ribu hektare, dengan Aceh sekitar 32 ribu hektare. Mentan Amran optimistis pemulihan dapat berjalan cepat.
“Kalau kita kerja ikhlas, kerja bersama, kolaborasi, insya Allah ini bisa kita selesaikan cepat. Tidak ada kendala berarti,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pendekatan padat karya dilakukan secara menyeluruh.
“Semua yang punya lahan kita libatkan. Kami tidak ingin kontraktor besar masuk, tetapi padat karya, sehingga mereka berpendapatan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi Soeharto menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah dalam merevitalisasi lahan pertanian pascabencana.
Komisi IV mendorong percepatan rehabilitasi sawah, tambak, dan perkebunan, serta menyatakan kesiapan mendukung tambahan anggaran bila dibutuhkan.
“Kalau untuk kepentingan daerah bencana, kami tentu akan menyetujui,” tegas Ketua Komisi.






