Jazuli Abdillah Selamat Idul Fitri

Akibat Pembangunan, Situs Sejarah Rumah Cimanggis di Depok ini Terancam Hilang

DEPOK,PenaMerdeka – Pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di RRI, Cimanggis Depok menuai berbagai protes. Pasalnya pada dalam area tersebut terdapat salah satu situs sejarah Kota Depok yaitu Rumah Cimanggis yang berasal dari abad ke-18.

Didit selaku Koordinator Bidang Edukasi Publik Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota menjelaskan, bahwa rencana pembangunan UIII tak sejalan dengan amanat UU No. 10/2011 tentang persoalan Cagar Budaya yang melindungi dan ingin melestarikan bangunan yang sangat beharga.

“Di tengah upaya warga-warga Depok memperjuangkan dan penyelamatan situs sejarah, Pemerintah Pusat malah merencanakan membangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) ini sangat lucu,” jelas Didit.

Yang menjadi mengkhawatirkan sekali UIII pasti berimbas kepada desakan terhadap ke keberlanjutan kota hijau. FKH menyayangkan agar rencana pemerintah pusat yang terkesan terburu-buru dalam membangun UIII, tanpa mengindahkan sama sekali aspek keberlanjutan kota.

“Kami mendorong Pemkot Depok untuk mempertimbangkan izin pendirian bangunan itu. Apalagi secara yang dipergunakannya, belum ada perubahan menanggapi RT RW agar kawasan yang sedianya akan dibangun UIII tersebut,” paparnya.

Menurut ia, Rumah Cimanggis dibangun abad ke-18, yaitu pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775). Bangunan Rumah Cimanggis bergaya arsitektur khas Batavia abad ke-18, terutama Indische Woonhuis pada kusen yang bermodel renaissance dengan ukiran ‘rokoko’ atau ‘louis quinze’.

“Rumah Cimanggis satu-satunya bangunan yang tersisa yang memperlihatkan kaitan antara situs sejarah Batavia dengan Depok. Karena usia yang tua dan cerita yang kaya, membuat rumah Cimanggis menjadi artefak sejarah yang sangat bernilai sekali. Bukan hanya masa VOC namun juga masa Sukarno yang menjadikannya rumah transit jika menuju istana Bogor atau Cipanas,” ungkapnya.

Sebagai bentuk dukungan penyelamatan tempat beharga dan pemeliharaan lingkungan, pihaknya segara membuat petisi untuk RTH dan penyelamatan situs sejarah ini. Dia juga mengharapkan Pemerintah dan masyarakat untuk menjaganya dikarnakan jumlahnya yang makin lama sedikit dan sudah jarang ditemui lagi. (redaksi)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan