Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Melihat Buku ‘Tangerang Tempo Doeloe’ Dalam Milad Perak Kota Tangerang

0 59

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Saat merayakan hari jadi ke 25 nanti, ada kreatifitas yang dipersembahkan bagi masyarakat Akhlakul Karimah. Sebuah buku anak bangsa berjudul Melihat Tangerang Tempo Doeloe diberikan saat seribu industri tersebut milad saat memasuki usia perak.

Yaa, tepat 28 Februari 2018 mendatang Kota Tangerang bakal merayakan hari jadi. ‘Kreator’ buku ‘Melihat Tangerang Tempo Doeleo segelintir masyarakat yang mendalami ciri, nilai, kultur, sebelum kota ini ramai dijajaki masyarakat luat Kota Tangerang.

Mereka adalah dari sejumlah pegawai negeri sipil, wartawan, budayawan, serta seniman sengaja mempersembahkan karya buku sebagai kado milad yang bertajuk ‘Tangerang Tempo Doeloe.’

Disebutkan Felix Mulyawan, inisiator penyusun Tangerang Tempo Doeloe, ini merupakan moment spesial bagi kota berjuluk Akhlakul Karimah tersebut.

Adanya karya ini, publik dapat melihat Kota Tangerang pada masa lampau. Kita bisa bernostalgia dengan adanya buku itu, apalagi pas berbarengan dengan miladnya Kota Tangerang.

“Ini keadaan yang langka, di era milenial masih peduli dengan sejarah. Bagimana kita memahami asal usul Kota Tangerang ini dan tidak melupakan apa yang terjadi pada tahun – tahun sebelumnya,” ucapnya dalam acara Coffee Morning yang dihelat di Novotel Tangerang, Kamis (15/2/2018).

Disebutkan pula, penyusunan buku Tangerang Tempo Doeloe turut dilibatkan para anak muda lainnya. Seperti Hasan Kurniawan wartawan Sindo, Andika Panduwinata jurnalis Warta Kota dan Mukhafi Solihin yang merupakan seniman dari Kota Tangerang.

Terlebih Haris Yasin sebagai budayawan setempat pun memberikan sumbangsihnya untuk penulisan buku menjelang milad Kota Tangerang tersebut.

“Di zaman digital ini, kita bisa melihat Tangerang di masa lalu melalui buku. Apa saja cerita – cerita pada zaman dulu bisa diketahui dan juga memberikan edukasi,” ucapnya.

Felix menerangkan, situasi Tangerang di masa silam, masyarakat sangat menjaga kerukunan. Mereka saat itu begitu kental menyingkapi keberagaman.

“Di sini banyak suku, ras, dan golongan. Apalagi etnis Tionghoa, sudah lama ada di Tangerang. Orang asli Tangerang itu, pasti ada asal usulnya dari turunan China,” kata Felix.

Sikap tenggang rasa lebih dijunjungkan. Masyarakat hidup dengan damai dan tentram. Momen milad ini kita bisa jadikan pembelajaran supaya kota ini lebih kondusif.

“Tapi puncak kerusuhannya terjadi pada tahun 1998. Di mana etnis – etnis Tionghoa banyak yang menjadi korban. Penjarahan terjadi di mana – mana.”

Kata Felix melanjutkan, saat itu kondisi mencekam ada perbuatan anarkis dari pembakaran di Lippo dan toko – toko milik etnis China.

Ada satu sejarah yang tidak bisa dilupakan, hanya satu mall saja di Tangerang yang tidak dijarah. Ada di Robinson karena di situ menjadi markas Kodim pada masa itu. Mudah mudahan tandas Felix, momen peluncuran buku dan milad ke 25 Kota Tangerang akan menjadi kota lebih maju. (yuyu)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...