HUT RI 76

Versi Tukang Cukur Online Bukan Curcol tapi Cur Ol 

Kami memang bukan ojek online (Ojol) yang masih boleh bebas mengantar dan mengangkut pelanggan disaat situasi seperti ini. Lalu apa yang menjadi pembeda, bicara tentang resiko dan kebutuhan? Atau mungkin kami tidak memiliki Founder yang menjadi Menteri, atau tidak ada kontribusi buat negeri? Lalu kesannya kami dianak tirikan. Loh, kata siapa dianak tirikan. Buktinya Komunitas Tukang Cukur yang kali pertama mendapatkan program rumah murah, sering diadakan acara cukur bersama dengan Bapak Presiden toh.

Ya, itu mungkin sekelumit keluh kesah menjadi Tukang Cukur di era Milineal, konon sejarahnya Uyut-uyut Tukang Cukur Indonesia dahulu kala membawa bangku kayu dengan mesin manual berkeliling kampung jauh puluhan kilo meter. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda tua bahkan hanya bersandar pada sebuah pohon. Bedanya sekarang sudah ada mobil, motor, alat-alat barber yang lebih canggih dan aplikasi yang mendukung serta teknologi yang memudahkan lainnya.

Bila dibandingkan dengan Ojol ya jelas sangat berbeda, Ojol hanya sampai mengantar pesanan dan penumpang ke tujuan selesai. Sementara Tukang Cukur harus berhadapan dengan hasil akhir Cukurannya, proses kerja yang berbeda walau sama-sama menggunakan kata online. Yang ingin digambarkan disini adalah semangatnya, keberaniannya, bukan OUT OF THE BOX (keluar dari kotak) lagi ya. Tapi NO BOX alias tidak ada kotak dan mengkotak-kotakan, bebas jiwanya.

Apakah tidak takut, resiko terpapar. Bukankah Pangkas, Salon, Barbershop, Rikma, Gerai, Kedai yang ditutup atau dihimbau harus tutup sementara waktu di wilayah tertentu mengharuskan diam di rumah. Karena tidak ada pelanggan yang bisa Potong Rambut lagi di tempat usaha. Lalu bagaimana kebutuhan para ahli cukur / barber yang tidak sedikit menggantungkan nasibnya dengan penghasilan harian sementara yang memerintahkan tetap di rumah hanya sekedar memberi perintah saja tanpa solusi yang berarti.

Mitigasi atau persiapan diri menghadapi badai atau hantaman pada usaha saat bencana memang belakangan ini sudah harus disiapkan jauh-jauh hari. Mengingat banyak terjadinya bencana alam, banjir, gempa, wabah dan lain sebagainya. Untuk itu seorang bijak pernah berkata. Bila kamu dapat 3, maka bagilah 1 untuk hari ini, 1 untuk tabungan usahamu dan saat sakitmu atau kebutuhan duniamu, 1 untuk tabungan akhiratmu karena hidup itu bisa saja tahu-tahu. Tahu-tahu kita sakit, bencana datang, dan kematian menjemput.

Para Kapster, Barber, Tukang Cukur yang saat ini masih dapat bergerak ditengah bencana wabah, menjadi solusi bukan hanya untuk diri sendiri, keluarga, tapi juga mereka yang membutuhkan jasa profesinya. Panggilan Potong Rambut ke Rumah Sakit, Panti Jompo, Rumah Pribadi bahkan Kantor dan Tempat kerja pelanggan. Sebuah Pola atau Cara Kerja yang bergeser dari pelanggan yang biasa datang ke Pangkas atau Barber, menjadi Barber atau Tukang Cukurnya yang datang menghampiri pelanggannya.

Secara garis besar ekonomi Barber/Tukang Cukur dan Driver Ojol tidak jauh berbeda, kecuali memang Ownernya yang memang sudah memiliki kekayaan pribadi tanpa harus lagi turun ke lapangan. Atau Barber yang sudah punya tarif besar sekali Cukur 1.5 sampai 15 juta/ kepala. Tapi itu bisa dihitung dengan jari, sementara yang masih berjuang dengan tarif tidak sedikit jumlahnya.

Untuk itulah, dengan adanya aplikasi DKapster yang dibuat anak bangsa ini, kita ingin mengkampanyekan bahwa profesi ini adalah profesi yang mulia. Jatuh bangkit yang namanya Tukang Cukur tetap pegang kepala. Kita ingin membiasakan pelanggan dengan harga minimal 50 Ribu Rupiah untuk kelas Premium sampai 600 Ribu Rupiah di kelas Crown. Sehingga kedepannya perang tarif murah dikalangan pangkas /barbershop bisa mulai dikikis demi kesejahteraan Pelaku Profesi ini. Karena kita tidak bisa terus menerus berharap menggantungkan impian/cita-cita bersama kita kepada Pemerintah atau Siapapun yang dapat mengangkat Profesi ini untuk dapat menjadi kebanggaan dan harapan kesejahteraan bagi generasi-generasi Ahli Cukur di masa depan. Dengan harga yang layak, penghasilan yang layak dan kehidupan yang lebih layak.

Salam Berdaya
Indonesia Bisa

Fery Diansyah
Founder Go Kursus Indonesia

Disarankan
Click To Comments