Lewat PSAK 71, Bank Banten Tingkatkan Kualitas GCG dan Menejemen

METODE INSTRUMEN KEUANGAN

SERANG,PenaMerdeka – PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) meningkatkan kualitas penerapan Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen risiko melalui implementasi Penerapan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK).

Terhitung 1 Januari 2020, Bank Banten mengimplementasikan PSAK No. 71 tentang ‘Instrumen Keuangan’ yang mengatur salah satunya tentang metode ekspektasi kerugian kredit.

“Ini dalam rangka meningkatkan kualitas informasi termasuk poin penting tentang pencadangan atas penurunan nilai
aset keuangan berupa piutang, pinjaman, atau kredit (CKPN),” ujar Bank Banten, Agus Syabarrudin dalan keterangan resmi yang diterima penamerdeka.com, Kamis (8/4/2021).

Agus menjelaskan, standar baru hitungan akuntansi ini mengubah secara mendasar metode penghitungan dan penyediaan cadangan kerugian akibat kredit macet.

“Berdasarkan hasil audit laporan keuangan Bank Banten 2020, Bank Banten membukukan CKPN sebesar Rp.691,622 miliar, dari Rp.126,955 miliar pada akhir 2019 menjadi Rp.821,577 miliar pada akhir 2020,” katanya.

Di saat yang bersamaan, lanjut Agus solvabilitas Bank Banten juga mengalami perbaikan dengan meningkatnya rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) dari 9,01% pada 2019 menjadi 34,75% pada 2020.

“Dengan meningkatnya indikator permodalan, maka seyogyanya Bank Banten memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan pengelolaan risiko dan menunjang kelanjutan usaha sebagai salah satu Bank Pembangunan Daerah,” ucapnya.

Kata Agus berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI), rata-rata KPMM Bank Umum Konvensional per Desember 2020 adalah 23,89%. Dengan demikian, secara umum kinerja permodalan Bank Banten berada di atas rata-rata industri!

“Implementasi PSAK 71 merupakan wujud nyata keseriusan kami dalam meningkatkan penerapan tata kelola dan memastikan Bank Banten senantiasa memenuhi standar serta ketentuan yang berlaku di sektor perbankan,” tuturnya.

Agus menambahkan, selain peningkatan tata Kelola dan permodalan, Bank Banten juga berhasil menurunkan beban umum dan administrasi sebesar 2,02%, dari Rp.179,262 miliar pada 2019 menjadi Rp.175,635 miliar pada 2020.

Serta lanjutnya, memangkas beban tenaga kerja sebesar 8,03%, dari Rp.129,400 miliar pada 2019 menjadi Rp.119.005 miliar pada 2020.

“Kita berharap, dengan struktur keuangan yang lebih baik, Bank Banten akan menjadi salah satu bank pembangunan daerah yang terdepan dan terpercaya,” tutupnya. (red)

Disarankan
Click To Comments