Yuk Simak! Ini Tips Siapkan Dana Sekolah Anak Jelang Tahun Ajaran Baru

JAKARTA,PenaMerdeka – Tahun ajaran baru segera tiba, berdasarkan kalender pendidikan permulaan tahun ajaran 2021/2022 bakal dimulai pertengahan Juli 2021 mendatang. Biasanya, para orang tua sudah ‘pusing’ dari jauh-jauh hari menyiapkan dana sekolah anak.

Maklum, biaya pendidikan anak saat ini cukup menguras kantong. Jika tak disiapkan sejak awal, orang tua bisa kelabakan. Ujung-ujungnya justru akan membuat arus kas keuangan keluarga berantakan.

Lantas, bagaimana cara menyiapkan uang sekolah untuk anak agar arus kas tetap sehat? Berikut tipsnya yang sudah dirangkum seperti melansir dari CNNIndonesia.com:

  1. Siapkan dari Jauh-jauh Hari

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan, orang tua sebaiknya menyiapkan uang sekolah anak sejak dini. Pasalnya, biaya sekolah adalah hal yang bisa diperhitungkan sejak awal.

“Orang tua kan bisa mengukur. Tahun depan misalnya naik dari SD ke SMP, hitung kebutuhan dana berapa besar. Jadi bisa menabung dari jauh-jauh hari,” ucap Andy, Jumat (21/5/2021).

Menurutnya, orang tua bisa menabung sejak awal pernikahan agar tak repot ketika anak sudah saatnya masuk sekolah. Misalnya, menyisihkan sebagian gaji untuk persiapan biaya anak sekolah.

“Ada rekening tabungan sekolah anak di bank. Ketika orang tua gajian, bisa dipotong langsung untuk masuk ke tabungan pendidikan anak,” kata Andy.

Dengan memiliki rekening khusus pendidikan anak, maka orang tua seperti ‘dipaksa’ untuk menabung. Nantinya, secara tak sadar, tabungan sudah terisi banyak dan orang tua tak perlu pusing menyiapkan dana untuk anak sekolah.

  1. Asuransi Pendidikan

Andy menyatakan orang tua juga bisa membeli polis asuransi pendidikan anak. Polis asuransi ini biasanya memiliki masa waktu lima sampai 10 tahun.

Setelah itu, dana bisa dicairkan dan digunakan orang tua untuk anak sekolah. Selain itu, polis asuransi juga biasanya menjamin anak tetap bisa sekolah jika orang tuanya meninggal.

“Selain ada nilai tunai, kalau orang tua meninggal atau sakit, anaknya tetap bisa sekolah,” kata Andy.

  1. Investasi

Sementara, orang tua juga berinvestasi sejak dini dalam menyiapkan uang sekolah untuk anak. Andy merekomendasikan orang tua untuk menempatkan dana di reksa dana.

“Untuk jangka panjang bisa reksa dana saham. Ini misal 10 tahun,” ujar Andy.

Lalu, ia juga menyarankan orang tua untuk berinvestasi di pasar saham. Menurutnya, potensi keuntungannya cukup menggiurkan jika dana yang dibutuhkan adalah untuk jangka panjang.

Untuk jangka pendek, orang tua bisa memilih reksa dana campuran dan pendapatan tetap. Jangka pendek di sini sekitar dua tahun sampai tiga tahun.

“Kalau jangka waktu pendek cari yang risiko rendah, kalau jangka panjang risiko tinggi,” jelasnya.

Sementara, orang tua juga membeli logam mulia atau emas untuk simpanan pendidikan anak. Namun, Andy berpendapat keuntungannya akan lebih rendah dibandingkan dengan investasi reksa dana saham atau pasar saham secara langsung.

“Pertumbuhan nilai jangka panjang kalah sama reksa dana yang pasar modal atau saham sekalian,” ucap Andy.

Senada, Perencana Keuangan OneShildt Lusiana Darmawan mengatakan orang tua harus tahu instrumen keuangan yang tepat dalam menyiapkan biaya pendidikan anak sekolah. Untuk jangka pendek, ia merekomendasikan orang tua memilih tabungan, deposito, dan reksa dana pasar uang.

“Jangka menengah dan panjang di atas tiga tahun dapat memilih instrumen investasi seperti SBN ritel atau yang lebih berisiko seperti reksa dana atau saham,” ujar Lusiana.

  1. Gadai atau Jual Aset

Lalu, orang tua juga bisa menggadaikan atau menjual aset. Andy menyatakan hal ini bisa menjadi opsi bagi orang tua yang tak memiliki simpanan sebelumnya.

“Contohnya orang tua jual motor. Harus ada yang dikorbankan,” tutur Andy.

Menurut Andy, menjual atau menggadaikan aset lebih aman dibandingkan harus pinjam dana di pinjaman online (pinjol). Pasalnya, tawaran bunga di pinjol seringkali mencekik.

Dengan demikian, orang tua akan memiliki beban baru ketika meminjam di pinjol untuk biaya sekolah anak. Terlebih, ada potensi teror dari pinjol jika telat membayar utang.

  1. Dana Darurat

Lusiana mengatakan orang tua bisa menggunakan dana darurat untuk membayar sekolah anak. Namun, dana yang terpakai harus diganti karena tujuan dana darurat idealnya tak digunakan untuk biaya anak sekolah.

“Tapi harus diisi ulang lagi,” ucap Lusiana.

Selain itu, orang tua juga bisa menggunakan hasil investasi sementara. Namun, lagi-lagi orang tua harus mengganti dana yang terpakai.

“Kalau kondisi mepet baru disiapkan sekarang bahaya juga, karena terpaksa pakai pos investasi yang timeframe mau dicapainya masih lama, tapi harus diisi ulang,” jelas Lusiana.

  1. Pilih Sekolah Sesuai Kemampuan

Yang tak kalah penting, Lusiana mengingatkan orang tua agar memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan keuangan. Jangan sampai orang tua memaksakan kehendak memilih sekolah mahal, tetapi di luar kemampuan.

“Ini penting, jangan memaksakan masuk ke sekolah yang diincar tapi akhirnya jadi beban. Cari alternatif lain,” tutur Lusiana.

Maka itu, orang tua sebaiknya menyiapkan pendidikan anak sejak dini. Orang tua bisa melakukan survei dari jauh-jauh hari untuk mengetahui total biaya yang dibutuhkan.

“Mulai survei sekolah sedini mungkin dan cari tahu biaya saat ini, mulai dari biaya pendaftaran, uang pangkal,” kata Lusiana.

Selain itu, orang tua juga harus mempertimbangkan faktor inflasi dengan menghitung kenaikan biaya sekolah secara rata-rata per tahunnya.

Lalu, jangan lupa untuk menghitung biaya tambahan. Hal ini seperti uang les, kehidupan sosial, dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Dari sini, orang tua bisa mengetahui jumlah dana yang dibutuhkan. Setelah itu, hitung investasi apa yang dibutuhkan agar dana pendidikan anak bisa aman hingga kuliah.

“Semakin cepat dimulai, semakin kecil biaya yang perlu diinvestasikan setiap bulannya,” pungkas Lusiana.

Disarankan
Click To Comments