HUT RI 76

Jokowi Blak-blakan soal Ambil Freeport-Blok Rokan dari Asing

JAKARTA,PenaMerdeka – Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka-bukaan soal alasan pemerintah mengambil tambang batu bara dan kilang minyak dari tangan perusahaan asing yang ada di Indonesia. Aksi tersebut guna mengamankan dan menjamin keberlanjutan sumber daya alam Indonesia ke depan.

Mulai dari mengambilalih 51 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI), mengakuisisi Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie dan Inpex Corportion, hingga akuisisi Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI). Selain itu, pemerintah ingin melakukan hilirisasi agar bisa mendapat nilai tambah dari kekayaan alam tanah air.

“Nilai tambah ini penting sekali, nilai tambah yang maksimal untuk kepentingan nasional kita, dalam negeri kita, rakyat kita. Itulah kenapa kepemilikan beberapa perusahaan asing kita ambil alih,” ungkap Jokowi di acara Pengarahan Presiden kepada Peserta PPSA XXIII Lembaga Ketahanan Nasional di Istana Negara, Rabu (13/10).

Seperti diketahui, pemerintah di era Jokowi telah mengambilalih kepemilikan saham Freeport dari semula cuma 9 persen menjadi 51 persen. Lalu, pemerintah juga mengakuisisi Blok Mahakam yang sudah 43 tahun dikelola Total dan kemudian diberikan ke PT Pertamina (Persero) dengan kepemilikan 100 persen.

Kemudian, pemerintah juga mengambilalih Blok Rokan yang sudah 97 tahun dikelola Chevron untuk juga diberikan ke Pertamina secara penuh. “Sekarang tinggal kita lihat, kita bisa tidak melanjutkan, meningkatkan produksi dari yang sudah kita ambil alih ini,” ucapnya.

Jokowi juga mengingatkan aksi pengambilalihan ini harus ditindaklanjuti dengan hilirisasi secara maksimal. Menurutnya, sumber daya alam Indonesia memang bisa menghasilkan penerimaan yang besar hanya dengan dijual secara mentah, tapi nilainya akan meningkat ketika diolah.

“Kita memang dapat uang dari situ, iya, kita dapat income dari situ, iya. Tapi nilai tambahnya itu yang kita inginkan,” ujarnya.

Untuk itu, menurutnya, bisnis ke depan tidak bisa hanya dengan asal menambang, menebang kayu di hutan, hingga menangkap ikan di laut, tapi kemudian harus diolah.

“Artinya apa? Ya kalau tambang, kita jangan hanya jadi tukang gali saja. Anugerah yang diberikan Allah kepada kita betul-betul sangat luar biasa besarnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, untuk memaksimalkan pengolahan sumber daya alam di dalam negeri, maka aktivitas usaha dan bisnis perlu menggunakan teknologi. Hal ini pun tidak bisa hanya dilakukan oleh perusahaan besar, tapi juga para nelayan rakyat.

“Penggunaan teknologi baru seperti aqua culture, harus mulai berani kita kenalkan kepada nelayan-nelayan kita, masyarakat kita, bukan hanya budaya tangkap saja,” imbuhnya.

Selain memaksimalkan potensi sumber daya alam, kepala negara juga meminta agar aktivitas bisnis dilakukan dengan terukur. Setelah itu, dilakukan pula pelestarian dan rehabilitasi.

“Tapi juga dibarengi dengan penanaman mangrovenya, rumput lautnya, budidaya ikan, sehingga semuanya berkelanjutan. Jangan cuma dilarang saja tidak boleh tangkap, tapi solusinya apa dong?” pungkasnya. (uki)

Disarankan
Click To Comments