Faisal Basri Wanti-wanti Jokowi Kasih Warisan Kemiskinan hingga Double Digit

GEGERA LONJAKAN KOMODITAS PANGAN

JAKARTA,PenaMerdeka – Ekonom senior, Faisal Basri mewanti-wanti Presiden Joko Widodo (Jokowi) tingkat inflasi yang tinggi akibat lonjakan harga pangan akan membuat angka kemiskinan meningkat. Bahkan, proyeksinya jumlah orang miskin akan kembali double digit dari posisi saat ini, single digit. 

“Jadi akan ada legacy (warisan) yang hilang kalau inflasi tinggi jumlah orang miskin akan double digit lagi. Padahal, Pak Jokowi mau menghilangkan kemiskinan ekstrem,” ungkap Faisal di acara diskusi online bertajuk ‘Harga Kian Mahal: Recovery Terganggu?’, Kamis (7/4).

Menurut Faisal, tingkat kemiskinan sangat mungkin meningkat saat inflasi tinggi karena porsi pengeluaran 20 persen masyarakat dengan pengeluaran terendah hanya untuk membeli bahan makanan. Data yang dikantonginya, 64 persen pengeluaran masyarakat miskin habis untuk beli makanan.

Hal ini berbeda dengan 20 persen masyarakat kaya yang porsi pengeluaran untuk belanja bahan pangan cuma 39,22 persen. Sementara saat ini, harga beberapa komoditas pangan tengah naik, seperti minyak goreng, tempe, dan lainnya.

“Sehingga kalau (harga) pangannya bergejolak, itu pengaruhnya ke rakyat miskin akan besar dan memunculkan tensi sosial atau gejolak sosial,” terang dia.

Kendati begitu, Faisal tidak memberi proyeksi berapa kira-kira kenaikan tingkat kemiskinan yang akan terjadi. Sementara, tingkat kemiskinan Indonesia sebesar 9,71 persen per September 2021.

Senada dengan Faisal, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono juga mengingatkan ancaman kenaikan tingkat kemiskinan bila inflasi tinggi berlangsung dalam jangka panjang. Sebab, inflasi tinggi akan mengerek beban pengeluaran masyarakat dan menekan daya beli, khususnya bagi masyarakat miskin.

“Berikutnya yang dipastikan terjadi kalau inflasi tidak bisa dikendalikan dalam jangka panjang, kemiskinan akan meningkat. Karena kalau kita lihat garis kemiskinan terbesar karena makanan,” jelas Margo.

Selain tingkat kemiskinan, Margo mengatakan inflasi tinggi akan menekan laju pertumbuhan ekonomi RI. Pasalnya, konsumsi rumah tangga menyumbang 54 persen bagi pertumbuhan ekonomi. Dampak lain, biaya produksi akan meningkat. Sementara, jumlah produksi justru bisa menurun. Akibatnya, bisa mengerek tingkat pengangguran.

“Kalau output perekonomian berkurang, salah satu potensinya adalah pengurangan tenaga kerja dan itu berarti ada banyak pengangguran,” pungkasnya. (uki)

Click To Comments