Kesucian Pasca Lebaran, Buya Syaban: Makna Surat Asy Syam Mujahadah Kecerdasan Kolbu

KEMULIAAN TERGANTUNG MUJAHADAH KOLBU

TANGERANG,PenaMerdeka – Semua ibadah selama puasa bulan Ramadan sebaiknya berdampak hingga pasca hari raya kemenangan Idul Fitri 1443 H usai digelar umat muslim. 

Pasalnya, jika di maknai serius banyak hikmah yang dapat diambil. Muslim diharuskan bermujahadah. Merevisi diri menjauhkan belenggu hawa nafsu saat memasuki aktivitas di luar bulan Ramadan.

Buya Muhamad Syaban saat mengisi tausiyah khotib sholat Ied di Masjid Darusalam Emerald Residence Sepatan, Sukadiri, Kabupaten Tangerang, Senin (2/5/2022), menyebutkan soal pembersihan diri.

Buya mengatakan bahwa Allah SWT telah berfirman pada surat Asy – Syam yang tertuang pada ayat sembilan (9) dan sepuluh (10).  

“Allah telah bersumpah pada surat Asy -Syam ayat 9 dan 10,” tukas pria asli Tangerang ini. 

Buya dalam kesempatan ini membacakan surah yang terdiri 15 ayat turun sebelum Nabi Muhamad hijrah ke Madinah kepada jamaah sholat Idul Fitri: 

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

9. qad aflaḥa man zakkāhā

Artinya: sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

10. wa qad khāba man dassāhā

Artinya: dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Lalu kata Buya M Syaban, orang beruntung pada makna yang tertulis dalam surat Al Makkiyyah ini adalah individu yang dalam setiap kesempatan dapat bermujahadah (bersungguh sungguh mengendalikan – evaluasi diri, red). 

Selain itu Muslim juga harus mengendalikan nafsunya. Nafsu dalam mengendalikan syahwat dunia.

Dia juga menegaskan, sebuah kemulian harus dibarengi denga kesucian jiwanya. Dalam lebaran Idul Fitri kita menyempatkan berpakaian baru dan bagus. Dan sebagai manusia kerap menghindari agar baju yang dikenakan tidak kotor.

“Padahal kebahagiaan, keindahan hidup tergantung dari kesucian jiwa atau hatinya. Lalu mengapa orang yang beragama tetapi akhlaknya tidak sesuai dengan apa yang dipahaminya,” ucap Buya Syaban.

Pasalnya orang yang bertipikal seperti itu lebih cenderung lebih memintarkan pola akal yang dipahaminya. Namun, tidak belajar mencerahkan kecerdasan hati. Mencerdaskan hati atau kolbu sejatinya salah satunya dengan bermujahadah.  

“Sayangnya tidak sibuk belajar untuk bermuhasabah mencerdaskan hati. Maka dari itu moment idul fitri ini kita harus belajar bermujahadah kolbu,” pungkasnya. (red)

Disarankan
Click To Comments