KABUPATEN TANGERANG,PenaMerdeka – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar kegiatan Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila di Kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), Kabupaten Tangerang, Kamis (2/7/2026).
Langkah strategis itu mempertegas komitmen untuk mentransformasikan nilai-nilai ideologi negara dari sekadar pemahaman teoretis menjadi sebuah gerakan sosial nyata di tengah masyarakat.
Anggota DPR RI Komisi XIII, Marinus Gea, yang hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan esensi tertinggi dari Pancasila bukanlah hafalan, melainkan tindakan konkret sehari-hari. Melalui penguatan relawan ini, nilai luhur bangsa diharapkan mampu dihidupi secara nyata.
“Pancasila harus dihidupi. Pancasila harus diwujudkan. Pancasila harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai Kebajikan Pancasila,” ujar Marinus di hadapan para peserta.
Ia menjelaskan, Kebajikan Pancasila merupakan perwujudan nilai-nilai lima sila dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam tata cara memimpin, melayani, serta memperlakukan sesama manusia. Menurutnya, ukuran keberhasilan penerapan Pancasila terletak pada seberapa jauh nilai-nilai tersebut mewarnai kehidupan bangsa.
Lebih lanjut, legislator asal Daerah Pemilihan Banten III tersebut menyoroti kontradiksi yang masih terjadi di ruang publik saat ini.
Ia menyebutkan, tantangan terbesar bangsa hari ini bukanlah minimnya pengetahuan, melainkan konsistensi dalam implementasi. Marinus menyentil masih maraknya isu intoleransi, korupsi, ketidakadilan sosial, hingga budaya saling menyerang di ruang digital.
“Artinya, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan. Persoalan kita adalah kekurangan keteladanan. Kekurangan penggerak kebajikan. Kekurangan warga negara yang bersedia menjadi contoh,” sambung Marinus.
Oleh karena itu, Marinus mengapresiasi pembentukan Relawan Kebajikan Pancasila oleh BPIP. Kehadiran relawan ini dinilai mampu menggeser paradigma lama, dari sekadar transfer pengetahuan atau penyampaian materi, menjadi sebuah gerakan moral kebangsaan dan transformasi karakter yang terarah.
Ia juga memastikan bahwa gerakan ini murni berdiri sebagai gerakan warga negara yang bertekad menjadi teladan, serta bersih dari kepentingan politik elektoral maupun kelompok tertentu.
Dalam acara yang juga diisi dengan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI tersebut, Marinus mengingatkan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa tidak diukur dari kemegahan infrastruktur atau kekayaan sumber daya alam semata, melainkan dari karakter manusianya.
Menjelang momentum Indonesia Emas 2045, ia berharap masyarakat tidak hanya terjebak pada narasi kebaikan, melainkan aktif melahirkan aksi nyata demi masa depan bangsa yang berintegritas.
“Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya berbicara tentang kebaikan, atau sekadar menghafal Pancasila. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang melakukan kebaikan dan menghidupi Pancasila,” pungkasnya.







