KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Kursi panas Ketua DPRD Kota Tangerang menjadi panggung pertaruhan reputasi DPD Partai Golkar. Meninggalnya almarhum Rusdi Alam memaksa partai beringin, bergerak cepat meracik strategi suksesi demi menjaga ritme tata kelola pemerintahan daerah yang rawan goyah akibat kekosongan kepemimpinan.
Dipimpin Sachrudin, Golkar Kota Tangerang kini menggelar karpet seleksi bagi delapan anggota Fraksi Golkar yang berada di gedung parlemen.
Namun, proses tersebut bukan sekadar pengisian jabatan rutin. Suksesi itu bisa disebut adalah ujian objektivitas: mampukah Golkar melepaskan diri dari jebakan politicking internal dan belenggu praktik like or dislike?
Mekanisme Seleksi: Menyaring yang Terbaik di Antara yang Baik
Ketua DPD Partai Golkar Kota Tangerang, Sachrudin menegaskan bahwa mekanisme pergantian pucuk pimpinan legislatif wajib melewati koridor dan aturan main internal partai sebelum mengantongi restu dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
“Penggantinya tentunya di antara anggota DPRD dari Partai Golkar, karena di sana ada putra-putra terbaik. Kami mengedepankan mekanisme internal, dan sekarang pembahasan sedang berjalan,” ujarnya saat ditemui awak media, Selasa (4/8/2026).
Proses penyaringan kini tengah berjalan ketat melalui beberapa tahap krusial yakni, Penyaringan Bertahap: Dari total 8 anggota Fraksi Golkar, tim seleksi internal akan memerasnya menjadi 3 nama calon kuat.
Rekomendasi ke Pusat: Tiga nama hasil kurasi tersebut bakal dikirim langsung ke DPP Partai Golkar untuk menyabet keputusan akhir. Indikator Penilaian: Seleksi tidak dilakukan atas dasar kedekatan politis, melainkan menakar kapasitas, kapabilitas, hingga tingkat senioritas dan rekam jejak kader.
”Di antara yang baik, tentu dicari yang paling baik. Kriterianya ada beberapa, termasuk kapasitas, kapabilitas, dan senioritas,” tegasnya.
Kejar Waktu Demi Stabilitas Parlemen
Menepis tudingan lamban, Sachrudin menjelaskan bahwa jeda waktu yang terjadi sebelumnya adalah bentuk rasa hormat atas masa duka berpulangnya almarhum Rusdi Alam. Namun, demi memastikan roda legislasi dan pengawasan anggaran tak melambat, akselerasi kini menjadi harga mati.
“Kemarin kita masih dalam suasana duka, jadi belum membicarakan soal penggantian. Namun, karena ini keharusan agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan terlalu lama yang bisa mengganggu kegiatan, maka prosesnya langsung kita jalankan secepatnya,” pungkasnya.
Pertaruhan Marwah Beringin
Perebutan takhta Ketua DPRD Kota Tangerang menuntut Golkar menanggalkan kepentingan faksi pendek. Publik kini menanti: apakah mesin politik Sachrudin mampu melahirkan pimpinan legislatif yang benar-benar berbobot dan disegani, atau justru terjebak dalam kompromi bagi-bagi pengaruh? Hasil keputusan DPP kelak akan menjadi jawaban atas ujian kedewasaan politik Beringin di Kota Tangerang.







