JAKARTA,PenaMerdeka – Harga minyak dunia kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa waktu setempat, yang dimana menandai penurunan selama dua sesi berturut-turut.
Pelemahan terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Seperti melansir dari Investing.com pada Rabu (5/7/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun sekitar enam persen menjadi USD78,72 per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman September terkoreksi 5,8 persen ke level USD75,65 per barel.
Sentimen positif muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan keyakinannya Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan.
Bessent mengatakan peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat cukup besar, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional yang vital, Selasa, 5 Agustus 2026.
Komentar tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dapat mereda apabila proses diplomatik berjalan sesuai harapan.
Di sisi lain, Qatar menyatakan upaya penyelesaian konflik Iran melalui jalur diplomatik masih terus berlangsung dengan fokus utama meredakan ketegangan dan membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut berbagai laporan, negara Teluk tersebut yang selama ini berperan sebagai mediator antara AS dan Iran menyebut rancangan awal kesepakatan telah disusun dan beredar di kalangan negosiator.
Meski demikian, belum ada kepastian mengenai pelaksanaan perundingan langsung antara kedua negara.
Pasar sendiri masih mencermati perbedaan pernyataan dari pemerintah AS dan Iran terkait proses negosiasi.
Presiden AS Donald Trump pada Senin menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan menyebut Teheran menghadapi “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menegaskan negaranya belum melakukan negosiasi dengan AS. Iran disebut lebih berfokus bekerja sama dengan Oman untuk mengatur jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam cair global.
Perbedaan sikap kedua negara membuat pelaku pasar tetap berhati-hati meski optimisme terhadap solusi diplomatik mulai meningkat.
Harapan tersebut sempat menguat setelah Presiden Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Namun, ketidakjelasan perkembangan negosiasi membuat volatilitas harga minyak masih tinggi.
Investor memahami proses menuju kesepakatan damai masih sangat rentan terhadap perubahan situasi. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga minyak dunia.
Sementara itu, data yang dirilis pada Senin menunjukkan ekspor minyak mentah AS pada Juli turun menjadi 3,66 juta barel per hari, terendah dalam delapan bulan terakhir.
Penurunan tersebut terjadi setelah pasokan minyak dari Timur Tengah kembali meningkat menyusul gencatan senjata singkat pada Juni, sehingga mengurangi permintaan terhadap minyak mentah asal Amerika Serikat.







