JAKARTA,PenaMerdeka – Lembaga pendidikan, terutama tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) dinilai harus memperhatikan khusus soal penanganan isu disabilitas tak tampak (invisible disability) pada anak. Oleh karena itu, para guru diminta lebih peka lagi membaca kondisi peserta didik.
Sebab, Banyak kasus disabilitas mental maupun intelektual yang tidak terdeteksi sejak awal karena tidak menunjukkan gejala fisik secara kasatmata. Hal itu ditegaskan Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi.
“Menurut saya, yang penting adalah sektor sektor pendidikan, itu harus juga aware. Guru-guru harus tahu sebenarnya, guru-guru PAUD, kelas 1, kelas 2 itu sudah harus tahu, Oh, mungkin kayaknya kamu punya murid yang disleksia, aku punya murid yang kayaknya autism,” ucapnya dikutip, Minggu (11/10/2026).
Pentingnya peran tenaga pendidik dalam melakukan pengamatan dini sangat krusial agar intervensi tumbuh kembang dapat dilakukan selagi anak berada pada masa emasnya.
“Guru TK, guru SD, dan guru SD ini harusnya kalau lihat teorinya, maksimal kelas 2. Kalau kelas 2 dia enggak bisa sesuai dengan umurnya, harusnya segera diterapi,” jelasnya.
Imran menjelaskan tantangan penanganan disabilitas kini makin kompleks seiring tingginya proporsi kasus disabilitas tak kasatmata.
Apabila disabilitas fisik dan sensorik lebih mudah dikenali dari penampilan luar, ragam disabilitas mental, serta intelektual kerap tidak disadari oleh lingkungan sekitar.
“Jadi kalau kita bilang disabilitas itu kan ada empat, ya. Ada fisik, sensorik, mental sama intelektual. Nah, ternyata sekarang yang paling banyak itu justru dua disabilitas ini, disabilitas mental sama disabilitas intelektual, ya,” tuturnya.
Tingginya prevalensi disabilitas mental dan intelektual pada anak memerlukan perhatian kolektif antara sektor kesehatan, pendidikan, dan masyarakat. Tanpa pemahaman yang memadai, anak dengan masalah kesehatan mental seringkali terlewat dari perhatian medis.
“Itu memang suatu hal yang perlu kita perhatikan bersama. Kenapa? Karena tadi jumlahnya di antara yang lain itu paling banyak untuk anak-anak. Dan spektrumnya juga mulai dari yang ringan sampai berat,” ucap Imran.
Imran menyinggung hambatan penanganan yang datang dari orang tua sendiri. Tidak sedikit orang tua yang merasa sulit menerima kondisi anaknya saat terdiagnosis mengalami disabilitas tak tampak seperti autisme atau disleksia.
“(Ada) orang tua yang enggak terima kalau anaknya terdiagnosis autism, disleksia, atau apa, gitu kan. Sehingga yang terjadi adalah pada saat sudah ditemukan pada saat deteksi dini tumbuh kembang, orang tuanya itu nyari pembenaran-pembenaran,” katanya.
Orang tua pun diimbau segera mencari dukungan komunitas agar mendapatkan edukasi dan penguatan emosional dalam mendampingi sang buah hati. Selain itu, sinergi antara perawatan medis dan penyesuaian pola belajar di sekolah menjadi kunci penting agar anak tetap bisa berkembang secara optimal.
“Jadi orang tuanya, secepat mungkin harus bergabung ke komunitasnya, dengan anaknya, harus mendapatkan penanganan yang benar di sekolahnya, ya kan, terus mungkin dia ada gangguan dengan kesehatan juga harus dirawat,” imbuhnya.







