Stop Impor Garam Farmasi, Pemerintah akan Produksi Ribuan Ton Per Tahun

KOTA TANGSEL,PenaMerdeka – Pemerintah akan memproduksi garam farmasi dalam kurun waktu satu tahun. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing dan menghilangkan ketergantungan barang impor terhadap komoditi ini.

Rencananya bakal ada produksi dua ribu ton per tahun. Produksi garam farmasi akan terus ditingkatkan untuk mencukupi kebutuhan garam pertahunnya yang mencapai enam ribu ton.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan “Innovation of Bioeconomics on Agroindustrial and Biotechnology Program 2017” yang dilaksanakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Setu, Tangsel, beberapa waktu lalu.

Direktur Farmasi dan Medika BPPT, Imam Paryanto menyatakan sejak tahun lalu, sebenarnya pemerintah sudah bisa mengurangi ketergantungan impor.

”Selama ini diimpor dari Australia. Namun setelah berdirinya pabrik di Jombang, Jawa Timur, kebutuhan garam farmasi dalam negeri bisa terpenuhi. Meskipun baru mencapai dua ribu ton dari total kebutuhan mencapai enam ribu ton,” katanya.

Ia mengungkapkan, produksi komoditi ini sudah lama digaungkan dunia sejak lama. Namun, Indonesia baru mulai memproduksi di tahun 2016. Setelah itu masuknya garam farmasi sebagai komoditas pangan srategis oleh Presiden Jokowi pada tahun 2015. Hal itu membuat industri ini semakin bergairah.

”Insya Allah produksi sebanyak enam ribu ton akan tercapai di 2018. Untuk memenuhi bahan baku obat khususnya infus, cairan dealisa (untuk cuci darah) dan sebagainya,” katanya.

Sementara, tim BPPT, Bambang Sriyanto mengatakan, industri dalam negeri seperti farmasi, mamin, pro analisa dan garam aneka pangan bisa terserap mencapai 500.000 ton.

”Kebutuhannya masih sangat tinggi. Garam rakyat untuk pro analisa mencapi dua juta ton pertahun, sementara saat ini Indonesia baru bisa menghasilkan garam pro analisa sebanyak 60 ton per tahun,” katanya.

Melihat dari nilai ekonomi, lanjut Bambang, hasil produksi garam farmasi  dijual Rp20-50 ribu per kilogram dan garam Pro Analisa bisa sampai Rp100 ribu per kilogram.

”Padahal bisa memiliki nilai ekonomis yang baik, apabila terkelola dengan bagus,” ucapnya. (deden)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Jazuli Abdilah ICMI Kota Tangerang
Disarankan