Jelang 2018, Tokoh FBR Komen Soal Kebijakan Budaya Periode Arief-Sachrudin

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang dibawah Arief R Wismansyah-Sachrudin disebutkan nyaris tidak menyentuh ciri khas dan kearifan lokal Kota Tangerang. Pemkot harus mendorong terciptanya kebijakan budaya, lantaran di Kota Tangerang ada segudang potensi.

“Lihat saja, masa simbol simbol yang dibangun lebih kepada budaya luar, tidak mencerminkan khas atau ciri Kota Tangerang. Seperti adanya patung gading yang berada di jalan protokol tidak mencerminkan riwayat khas Kota Tangerang, gak pernah dengar dari orang tua saya kalau gajah pernah hidup di Kota Tangerang,” ucap Solihin, Ketua Forum Betawi Rempug (FBR) Kota Tangerang, Senin (3/4).

Kata pria yang kerap dipanggil Liking menyebutkan, banyak infrastruktur Pemda yang bangunannya tidak mencerminkan khas Tangerang. Berdirinya Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang berada di Kota Tangerang menurutnya juga tidak dimaksimalkan, bahkan sedikit ornamen khas Kota Tangerang saja tidak ada.

“Padahal Bandara Soekarno-Hatta adalah pintu gerbang internasional Indonesia. Ini bisa jadi ajang promosi, Pemkot harus koordinasi dengan pengelola bandara karena kendati berada di wilayah Kota Tangerang kebijakannya berbeda. Minimal ornamen Tangerang harus ada bukan malah dari daerah lain yang memajang ornamen khasnya,” ujarnya.

Pemkot Tangerang juga harus membuat kebijakan budaya supaya mendorong eksisnya kearifan lokal. Ada seni beladiri Beksi, kalau mau dilesuri ada jenis beladiri kotek. Dan di daerah Pondok Bahar, Karang Tengah ada juga seni beladiri yang harus diangkat, apalagi masih ada penerusnya.

“Kalau ada Perda cagar budaya mungkin selain bangunan peninggalan rumah pitung yang ada di Kota Tangerang tidak terjual kepentingan komersil, budaya betawi lain juga bisa menjadi warisan leluhur anak bangsa,” katanya.

Menurut Solihin, budaya Betawi di Jakarta dan Tangerang identik sama, yang membedakan hanyalah batas tertorial dan kepala daerah. Maka itu adanya kampung beksi dan yang lainnya harus diperkuat dengan kebijakan budaya dari Perda Cagar Budaya tadi.

“Artinya pemerintahan Arief-Sachrudin yang menggelontorkan konsep smart city tetapi juga harus sepadan untuk membangun kearifan lokal. Harus sejalan,” kata Solihin.

Kata Solihin mengaku dari periode pertama sudah mendorong dibangunnya gedung kesenian. Pembangunannya disarankan berada di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Mudah-mudahan nanti akan dianggarkan oleh Pemkot Tangerang. Karena wisatawan bisa mampir ke gedung pusat kesenian membeli khas kuliner, cindera mata yang dibuat oleh masyarakat Kota Tangerang.

“Tangerang itu tidak punya ciri khas, padahal kita punya banyak budayawan yang jika nanti Perda Cagar Budaya akan diadakan bisa dimintai pendapatnya,” kata Ketua Komisi III DPRD Kota Tangerang ini menjelaskan.

Kalau ada takdir menjadi kepala daerah, tentu menurut Solihin dirinya selain merealisasikan kebutuhan dasar masyarakat tetapi persoalan kebijakan budaya dan kearifan lokal harus didorong.

“Karena antara memenuhi kecukupan dasar dan ekonomi, kearifan lokal juga penting direalisasikan. Kedepan jelang Pikada Kota Tangerang setiap kandidat harus memikirkan persoalan kebijakan budaya,” tandas Solihin. (deden)

Disarankan
Click To Comments