Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Tangerang Pemilu 2019

Dualisme KNPI Tangsel Berakhir, Bermuara ke Musda Kubu Fahd A Rafiq

0 110

Kota Tangerang Selatan – Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Banten, Ali Hanafiah menyatakan tidak ada lagi dualisme dalam tubuh KNPI di wilayah kerja organisasinya.

Persoalan sama terjadi untuk DPD KNPI Tangerang Selatan (Tangsel). Pasalnya pengurus Tangsel baru saja dilantik oleh DPD KNPI Banten dimana Eko Widjianto menjabat sebagai ketua.

“Jadi di tubuh KNPI Tangsel sudah tidak ada lagi dualisme. Mereka bermuara kepada pengurus pusat yang baru yakni kubu Fadh A Rafiq. Barusan mereka sudah dilantik,” kata Ali kepada Pena Merdeka ditemui setelah acara Musda III, DPD KNPI Kota Tangerang Selatan, Senin (13/6) malam.

Ali mengatakan, sebelumnya sejak Musda yang dilakukan pada tanggal 15 April 2016 lalu, KNPI di Banten pun menurutnya sudah tidak ada lagi kepengurusan dualisme.

“Dalam Musda itu saya terpilih menjadi Ketua DPD KNPI Provinsi Banten, dan saat itu langsung dilantik oleh ketua umum,” ujarnya.

Setelah dilantik saat itu ia langsung roadshow (berkunjung, red) ke DPD KNPI Kota dan Kabupaten yang ada di Banten. Ada sejumlah pengurus KNPI kabupaten dan kota yang dicaretaker-kan.

Untuk wilayah Tangerang Raya, diakuinya hanya DPD KNPI Tangsel saja yang di ganti dari pengurus sebelumnya, mereka mengikuti ketentuan. Dan mereka (pengurus kota kabupaten) hadir dalam Musda Tangsel.

“Kasihan pengurus KNPI sebelumnya yakni Ahmad Shawqi, sudah mengeluarkan banyak dana, tetapi tidak berlanjut karena mereka tidak mengikuti aturan pusat,” ujarnya.

Ali kembali menegaskan setelah keluarnya Surat Keputusan (SK) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) yang mengesahkan KNPI kubu Fahd A Rafiq agar KNPI daerah kondusif.

“Sesuai instruksi DPP KNPI pun tidak boleh ada dualisme lagi, kalau pun ada itu yang ngaku-ngaku aja. Yaa mereka ilegal lah,” papar Ali menegaskan.

Terkait rencana program yang menjadi prioritasnya, Ali mengatakan ada tiga hal, pertama adalah program kewirausahaan pemuda, pelatihan advokat untuk pemuda, dan agro entrepreneur.

Menurut Ali, problem yang sangat mendasar dihadapi pemuda adalah kurangnya pelatihan-pelatihan keterampilan dan usaha untuk para pemuda.

Program itu sengaja digelontorkan karena selama ini menurut Ali bahwa sebuah organisasi kerap ‘ramai’ pada saat akan pemilihan dan kepengurusan akan habis saja. Makanya kami membuat program itu supaya mengantisipasi kesan yang seperti itu. (wahyudi)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...