Sekelumit Bahaya Aktivitas Gunung Anak Krakatau Sekarang dan Letusan 1883!

LAMPUNG,PenaMerdeka – Gunung Anak Krakatau (GAK) sejatinya dikabarkan sejak 18 Juni 2018 lalu sudah mengalami peningkatan aktivitas. Lantas bagaimana dampaknya kepada masyarakat.

Berdasarkan rekaman seismograf pada 6 Juli 2018 tercatat ada 100 kali gempa letusan, 118 kali gempa hembusan, 27 kali gempa vulkanik dangkal dan 1 kali gempa vulkanik dalam.

Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda itu lantaran dikhawatirkan mengancam keselamatan wisatawan akhirnya diminta untuk tidak mendekat dalam radius satu kilometer.

Gunung ini meskipun berstatus anak merupakan salah satu gunung yang masih aktif. Dan baru muncul dari permukaan laut pada 1927. Rata-rata bertambah tinggi 4-6 meter per tahun.

Energi dari letusan yang dikeluarkan juga tidak besar. Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883.

Bahkan beberapa ahli mengatakan, aktivitas Anak Gunung Krakatau tidak mungkin untuk saat ini terjadi letusan yang dahsyat seperti terjadi beberapa tahun lalu. Jadi tidak perlu dikhawatirkan.

Letusan kali ini, masih berkaitan dengan meningkatnya aktivitas gunung yang diberitakan sejak Juni 2018 lalu.

“Iya ada letusan. Ada lava pijar,” ujar Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Andi Suandi melalui pesan singkatnya, Rabu malam (11/7/2018).

Gunung berapi dengan ketinggian 305 MDPL yang berada di Selat Sunda dan amsuk ke dalam wilayah Lampung Selatan itu memiliki total letusan 99 kali, dengan amplitudo 18-54mm dengan durasi antara 20-102 detik. Embusannya berjumlah 197 kali, dengan amplitudo 3-35mm, durasinya 16-93 detik.

Lalu tremor non-haemobjk berjumlah dua, amplitudo 2-7mm. Tremor harmonik berjumlah dua, amplitudonya antara 4-5mm.

Gempa vulkanik dangkal terjadi 32 kali. Meksi begitu status Anak Gunung Krakatau tetap berada di Level II atau Waspada.

Berbalik ke sejarah terjadinya letusan Gunung Krakatau pada 1883 bahkan dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki.

Peristiwa kelam itu terjadi pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, terjadi rangkaian empat ledakan besar pada gunung tersebut yang hampir menghancurkan seluruh pulau.

Dengan kondisi sekarang menurut ahli dan mendahulukan kekuasaan yang kuasa tidak memungkinkan Gunung Anak Krakatau bisa terjadi meletus dengan tingkat bahaya sama seperti pada 1883.

Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geographic mengatakan bahwa pada 1883 adalah yang paling besar dari letusan yang pernah terjadi dan termasuk salah satu di antara peristiwa vulkanik paling kejam dalam sejarah. (uki/dbs)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Jazuli Abdilah ICMI Kota Tangerang