Kisah Aska Warga Kabupaten Tangerang yang Hidup di Gubuk Reyot Selama 13 Tahun

0 214

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Aska, 52, warga Kampung Sukasari RT07 RW 02 Desa Pabuaran, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, harus hidup di gubuk reyot selama 13 tahun lamanya.

Kondisi tempat tinggalnya berdiri jauh dari kata layak huni tersebut pun diperparah dengan lingkungannya yang dikelilingi empang dan comberan.

Pria yang kerap disapa Mang Akol itu harus bertahan hidup dalam gubuknya seluas 3×3 meter yang berlantai tanah, berdinding bilik bambu yang penuh lubang.

Tak ada perabotan rumah tangga, hanya sebuah ranjang kayu usang hingga gulungan plastik dibuatnya sebagai bantal yang menjadi tempat merebahkan tubuhnya untuk menemani lelapnya tidur.

Tidak ada yang baru, semuanya sudah terlihat usang. Bahkan lubang dinding menganga di mana-mana. Serta pondasi yang mulai keropos hingga genteng pun sudah banyak yang pecah. Bahkan, kesehariannya ia hanya ditemani beberapa ekor ayam miliknya yang diberi oleh tetangganya.

Mang Akol menceritakan tentang kondisinya saat ini yang sudah tidak berdaya untuk melangkah. Dirinya hanya bisa berbaring pasrah karena penyakit yang telah menggerogotinya sejak 2007.

“Saya kurang lebih 13 tahun tinggal disini. Sebelum saya sakit-sakitan, dulu saya masih bisa cari uang dengan kerja kuli bangunan dan serabutan, tapi sekarang tidak lagi karena sudah tidak berdaya sama sekali, karena lumpuh total. Untuk makan sehari-hari, saya hanya berharap pemberian dari tetangga,” paparnya.

Ia mengatakan pada 1990 lalu saat dirinya berusia 23 tahun merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mencari pekerjaan. Ia pun mendapatkan pekerjaan walau hanya sebagai buruh serabutan namun ia tetap nikmati dan syukuri.

Hingga pada 1996, Mang Akol pun bertemu tambatan hatinya dan menikahinya di Banjarmasin. Dari pernikahannya itu, ia memiliki dua putra bernama Rionaldo, 23, dan Agus Jaya, 14. Namun, kebahagian rumah tangga itu pudar pada 2007, lantaran penyakit rematiknya yang membuat dirinya lumpuh tak bisa berjalan.

“Pada tahun (2007) itu istri dan anak-anak pergi tinggalin saya karena penyakit ini. Saya pun memutuskan untuk pulang ke Tangerang dengan berbagai cara dan berhasil. Saya kangen anak-anak. Saya tidak bisa cari uang lagi, karena kondisi yang sudah tidak berdaya (lumpuh) ini,” kata Mang Akol.

Lang Akol mengaku tidak pernah mendapat bantuan apapun baik dari pemerintah desa, kecamatan hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang.

“Diperhatikan saja tidak pernah. Kalau pemerintah bisa membantu, saya bersyukur sekali, karena saya sudah sakit-sakitan begini, tidak bisa lagi bekerja cari uang sendiri untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari,” imbuh Mang Akol.

Sementara itu, Ketua RT 07 Desa Pabuaran, Siman mengatakan, pihaknya berharap pemerintah daerah dapat membantu kondisi Mang Akol dengan membedah rumah tersebut hingga layak huni.

Ia menambahkan, upaya pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan harus benar-benar terwujud dan bukan hanya slogan saja.

“Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama instansi terkait diminta untuk lebih proaktif dalam memperhatikan kondisi kehidupan masyarakat di daerah ini, khususnya kepada mereka yang masih membutuhkan sentuhan bantuan dari pemerintah dan para dermawan,” tambah Siman. (sarinan/rd)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan

Tinggalkan pesan

Alamat email anda tidak akan disiarkan. Penamerdeka.com tidak bertanggung jawab dengan isi komentar, tulisan komentar sepenuhnya tanggung jawab komentator sesuai aturan UU ITE