Pemkab Bekasi ads HPN 2020

Pejabat Kekinian yang Berbudi Luhur

0 183

Oleh: Aris Setiawan

Mahasiswa Magister Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta

Tantangan dunia kerja yang penuh dengan dinamika, banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi tertinggi menjadi seorang pejabat atau pimpinan, baik ditingkat perusahaan atau menjadi pejabat publik. Hal ini yang mendasari dari tuntutan kebutuhan yang sangat besar di era kecepatan.

Terkait memenuhi kebutuhan juga pemenuhan dari gaya hidup, terlihat dari gaya kerja dan tantangan kerja dimana setiap orang berkompetisi sangat cepat dengan waktu dan di era digital, dari kompetisi pada dunia kerja yang sangat keras.

Begitu kencangnya persaingan dan kerasnya dunia kerja ditataran kalangan atas sehingga mempengaruhi gaya kerja seorang yang berusaha keras untuk menjaga eksistensinya. Sehingga, banyak melakukan hal-hal yang melampaui kewenangan yang dimiliki hanya sekedar memenuhi hasrat gaya hidup.

Baru-baru ini, Menteri BUMN RI, Eric Thohir mencopot Direktur Utama PT Garuda Indonesia. Dampak dari keterlibatan penyeludupan onderdil Harley Davidson dan sepeda Bromton. Kita semua sebagai orang awam sangat menyesalkan kejadian tersebut.

Hal ini sebagian contoh dari risiko jabatan dalam menjalankan tugas sebagai pejabat. Banyaknya ujian dan godaan ketika sudah menjadi seorang pimpinan, kembali kepada mentalitas dan tentunya gaya hidup seseorang yang sangat mempengarhui lingkungan pergaulan serta adanya kesempatan.

Melihat realitas yang ada, banyak orang yang berebut gelar pimpinan hanya untuk mencari kepentingan pribadi. Bukan karena niat yang ikhlas untuk menjadikan lingkungan kerja lebih baik.

Semua dipertaruhkan untuk mendapat gelar pimpinan atau atasan dan alhasil hubungan pimpinan dengan karyawannya menjadi tidak harmonis dan tidak ada keterbukaan. Ini merupakan salah satu kejadian dari kebanyakan dilingkungan kerja dimana posisi pimpinan yang ditempatkan oleh oknum-oknum orang yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan golongan.

Mentalitas dan kekuatan nilai-nilai spiritual serta sikap berbudi luhur dalam lingkungan keluarga dan kerja merupakan nilai pribadi yang harus dimiliki oleh setiap individu sebagai benteng dalam menjalani kehidupan saat ini. Lingkungan sangat memiliki peran yang sangat kuat melihat kondisi saat ini ruang publik yang mudah dibentuk, seperti komunitas-komunitas atau perkumpulan-perkumpulan, dengan gaya hidup serta kebutuhan existensi maka tidak dapat dipungkiri hal ini menjadi hal yang sangat mempengaruhi.

GAYA KEPEMIMPINAN MENUJU KESUKSESAN ORGANISASI

Berorganisasi atau berkelompok, sangat membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk berperan dalam meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia. Oleh karena itu, para pemimpin pada sebuah organisasi sedapat mungkin berperan sebagai penentu arah bagi sumber daya manusia dan sedapat mungkin menjadi agen perubahan, juru bicara dan pelatih.

Berperan tidaknya seorang pemimpin dalam menyukseskan organisasi tercermin pada gaya kepemimpinan yang diterapkan untuk mempengaruhi para pengikutnya.

Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan pengikutnya dengan maksud mampu membuat pengikutnya beraksi bersama-sama untuk mencapai tujuan suatu organisasi.

Kepemimpinan merupakan kekuatan yang sangat penting dibalik kekuasaan berbagai organisasi dan bahwa untuk menciptakan organisasi yang efektif maka ruang lingkup kerja mengenai apa yang bisa mereka capai, kemudian memobilisasi orgranisasi itu untuk berubah kerah visi baru tersebut (Werren Bennis & Burt Nanus,2006:2).

Tidak dapat dipungkiri, bahwa kesuksesan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh factor kepemimpinan. Didalam kepemimpinan terdapat pemimpin dan pengikut.

Seorang pimpinan tidak mungkin dapat bekerja sendirian akan tetapi membutuhkan sekelompok orang lain yang dikenal sebagai bawahan, yang digerakan sedemikian rupa sehingga para bawahan itu memberikan pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi, terutama dalam cara bekerja efektif, efesien, ekonomis dan produktif.

Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi
Gaya  kepemimpinan sebagaimana yang  diungkapkan Marzuki  (2002), merupakan  norma perilaku dari seseorang yang dipakai   saat orang tersebut berusaha mengarahkan   atau mempengaruhi orang lain dengan  berbagai kelebihan dan kelemahan.

Seorang  pemimpin akan menggunakan gaya  kepemimpinan sesuai  dengan potensi  kemampuan dan kepribadiannya. Dengan  kata lain pemimpin memiliki sifat antusias  untuk mempengaruhi orang lain dalam pencapaian tujuan organisasi.

Dengan kemampuan yang dimiliki oleh   pemimpin dalam menjalankan tugas dan  fungsinya sangat mungkin organisasi  berjalan dengan  efektif dalam mencapai  tujuan. Oleh  karena itu, pemimpin yang  efektif adalah pemimpin yang memiliki kemampuan mempengaruhi perilaku angggotanya.

Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain (Thoha,2004:51).

Hersey dan Blanchard (1982) menyatakan, bahwa gaya kepemimpinan merupakan pola-pola perilaku konsisten yang mereka terapkan dalam bekerja dengan melalui orang lain seperti dipersepsikan orang-orang itu.

Musakabe (2010) menyebutkan bahwa beberapa nilai kepemimpinan yang perlu dimiliki seseorang diantaranya adalah integritas dan moralitas, tanggung jawab, memiliki visi pemimpin, kebijaksanaan, keteladanan, kemampuan berkomunikasi, komitmen.

Menjadi seorang pejabat yang memiliki kewenangan besar apalagi yang menyangkut hidup orang banyak harus dipilih orang yang memiliki integritas dan kopentensi tinggi serta yang terpenting memiliki budi yang luhur, sebagai banteng dalam melakukan aktifitas yang berkaitan dengan jabatan, berbudi luhur merupakan sesuatu yang sangat langka saat ini.

Seperti yang diamanatkan oleh Ihsan M.Rusli dalam opini Krisis budi luhur anak bangsa di singgalang. Dimana Budi luhur yang menjadi ruh dan semangat berbangsa dan bernegara yang dulu merupakan pegangan erat para founding fathers.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disperkimta Tangsel Ads
Loading...