Melihat Urgensi Materi Kebencanaan Dalam Dunia Pendidikan

0 367

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Letak geografis Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana alam, materi kebencanaan kepada masyarakat pun dianggap darurat untuk diberikan.

Menyusul Instruksi Presiden Joko Widodo agar edukasi dan mitigasi bencana di masyarakat ditingkatkan, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir, Senin (7/1/2018) menginstruksikan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk memasukkan materi edukasi dan mitigasi bencana alam dalam kegiatan perkuliahan.

Bambang Kurniawan, Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Ilmu Politik (STISIP) Yuppentek Tangerang mengatakan, menyambut baik instruksi dari Menristekdikti.

Karena menurutnya, dari letak geografis Indinesia yang rawan bencana karena berada tepat diatas tiga lempengan dan juga Ring Of Fire (Cincin Api) sudah saatnya masyarakat Indonesia, khususnya di perguruan tinggi untuk fokus juga memikirkan bentuk mitigasi seperti apa yang bisa disampaikan kepada Civitas Akademika perguruan tinggi terkait dengan penanganan bencana.

“Memang sudah saatnya masyarakat atau khususnya di kalangan perguruan tinggi untuk fokus dalam hal penanggulangan bencana. Artinya ya tidak ada kata terlambat untuk belajar, khususnya dalam hal penanganan bencana,” Kata Bambang kepada PenaMerdeka.com, Sabtu (12/1/2019).

Bambang menuturkan, materi penanggulangan bencana tidak hanya diberikan pada perguruan tinggi yang hanya rawan terhadap bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, gempa, longsor dan angin puting beliung saja.

Tetapi, melihat laporan kerawanan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dari matriknya tingkat kerawanan bencana di Indonesia mencapai 90 persen, Bambang melanjutkan, kalau berbicara Civitas Akademika perguruan tinggi, materi tentang mitigasi bencana memang sudah harus masuk dan disosialisasikan ke masyarakat.

“Kita ingin seperti di Jepang, yang saya tahu hampir seluruh Universitasnya, bahkan bukan hanya Universitas, masyarakatnya pun nampaknya sudah paham sekali untuk beradaptasi dan hidup berdampingan dengan bencana, sehingga tidak panik dan tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan mereka sendiri jika bencana datang,” tuturnya.

Selain menjadi Rektor di STISIP YUPPENTEK, Bambang yang juga aktif dalam kegiatan penanggulangan bencana ini memaparkan, untuk di Kota Tangerang, bencana alam yang terjadi adalah banjir dan juga sesekali pernah terdampak angin puting beliung.

Selain bencana alam, lanjut Bambang, Kota Tangerang memiliki bencana non alam seperti kebakaran dan juga potensi bencana sosial seperti keributan antar etnis yang pernah terjadi yang juga menimbulkan korban jiwa.

Untuk itu, Ia berharap, Kota Tangerang agar dapat mengantisipasi dan meminimalisir jatuhnya korban dari bencana yang mengintai.

“Kalau saya boleh usul, lembaga penelitian dari masing-masing perguruan tinggi yang ada di Kota Tangerang kumpul, lalu bicara ada materi apa terkait penanggulangan bencana yang dapat disiapkan sebagai mata kuliah, dan kita sisipkan dalam perkuliahan.”

“Kalau dari urgensinya, bisa dimasukan dalam beban Satuan Kredit Semester (SKS) tapi mungkin bobotnya tidak besar. Dan saya berharap bukan materi kebencanaan tidak hanya di dunia pendidikan formal saja, tetapi masyarakat juga dapat mempelajarinya,” tandasnya. (ari tagor)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...