Ribut-ribut Konvensi PSI Kota Tangsel! Gimik Dongkrak Partai? Muhamad Kantongi Poin Tertinggi

0

KOTA TANGSEL,PenaMerdeka – Pasca pengumuman sebelas nama hasil konvensi bakal calon Walikota dan Wakil Walikota Tangsel Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Tangsel sempat mengagetkan sejumlah pihak.

Hasil pengumuman yang ditandatangani Ratu Ayu Isyana Bagus Oka selaku Ketua Panitia Konvensi Pemilihan Kepala Daerah DPP PSI pada 4 Mei 2020 disebut Nursamad, Aktivis Anti Korupsi tidak sesuai harapan masyarakat Tangsel.

“Hasil yang diumumkan penuh tanda tanya. Hanya melegitimasi tendensius sedari awal ke salah satu peserta konvensi,” kata Nursamad dalam rilis yang diterima ATMNews, Kamis (7/5/2020).

Oleh karenanya, dugaan Konvensi tersebut merupakan “gimmick” yang digunakan hanya untuk mendongkrak popularitas partai, tidak bisa dihindari.

Sebab kata Nursamad, seharusnya partai yang memiliki jargon transparansi dan antikorupsi tidak sebaliknya. Kali ini mereka hanya menjadikan jargon untuk mendulang simpati masyarakat.

“Padahal masyarakat sudah lama menunggu PSI bisa mewujudkan transparan, jujur dan bersih. Namun praktiknya justru bertentangan dengan nilai-nilai itu,” tukasnya.

Lalu kata dia, Muhammad salah seorang bakal calon dari birokrat Pemkot Tangs telah mengantongi dukungan dari PSI, padahal saat itu sedang berlangsung proses tahapan Konvesi serta beredarnya video Muhammad dengan peserta konvensi lain, yaitu Azmi Abubakar.

Saat berlangsungnya proses tahapan konvensi, secara tidak langsung memberikan pesan bahwa PSI telah memberikan dukungan politik.

“Pasalnya Azmi Abubakar adalah Ketum DPW PSI Banten. Meskipun sempat dibantah oleh DPP PSI, Isyana Bagoes Oka. Sungguh saat itu jika benar terjadi, maka sangat tidak etis dan jelas mencidrai marwah Konvensi serta jargon PSI itu sendiri,” ucapnya.

Dan saat ini, kita disuguhkan dengan hasil Konvensi yang hanya mengkonfirmasi dan melegitimasi isu tersebut, lantas untuk apa diselenggarakan konvensi jika sejak awal dan dalam masa konvensi sudah menentukan pilihan? Apakah ini kebetulan semata atau memang bagian dari skema yang dimainkan oPSI?

Nursamad melanjutkan, tidak hanya itu, hasil Konvensi dianggap tidak mempunyai indikator/ukuran penilaian metodelogis.

Beberapa tahapan konvensi yang tidak di jadikan ukuran penilaian, seperti debat kandidat, ketaatan peserta dengan aturan, serta ketidakkonsistenan peserta dalam mengikuti tahapan konvensi.

“Seharusnya variabel tersebut dijadikan penilaian penting, terutama tahapan debat kandidat karena dapat menguji kecakapan intelektual calon peserta yang diusung dalam menjawab persoalan,” ucapnya.

Wajar jika Fahd Pahdepie yang memukau dan menguasai materi pada saat debat kandidat berada pada posisi buncit hasil konvensi, dan tak heran pula peserta lain: Siti Nurazizah dan Ade Irawan yang tidak mengikuti tahapan debat kandidat berada pada posisi 5 besar, serta menempatkan Muhammad yang saat debat terbuka terlambat dan tidak menggunakan warna pakaian yang telah ditentukan oleh panitia, justru mendapat nilai tertinggi.

Belum lagi ketika mempertanyakan metodelogi survey apa yang digunakan, sebab sejak tahapan debat terbuka adalah masa pandemi Covid 19 hingga saat ini.

Untuk itu kami meminta PSI manjelaskan indikator/ukuran yg di jadikan penilaian dan juga membuka data hasil survey secara transparan.

Nursamad juga memandang bahwa semestinya mengundang semua peserta atau siapapun untuk menguji hasil penilaian secara langsung, terbuka.

Dan disiarkan secara live melalui akun resmi PSI seperti pada saat Konvensi, agar masyarakat bisa menilai bahwa PSI memang konsisten memegang teguh jargon politiknya.

Sebagai parpol yang transparan, dari awal hingga penilaian akhir, bukan hanya proses awal namun tidak pada pada penilaian akhir.

Terakhir, untuk mengingatkan bahwa PSI identik dengan partai golongan muda maka semestinya berpihak terhadap kepemimpin muda, bukan justru menutup ruang itu dan memilih yang sudah tidak muda.

“Kita bisa menerima ketika “kotor” ada namun jujur mengatakannya, daripada kotor ada namun tidak jujur mengatakannya. Bahkan kemudian menutupinya lalu mengatakan bersih,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia Konvensi PSI Isyana Bagoes Oka menjelaskan, konvensi penjaringan Pilkada Tangsel, yang dilakukan secara terbuka dan independen itu, diikuti oleh 27 peserta. Semua peserta mendaftarkan diri sejak 1 September 2019.

Dari pendaftaran itu, kemudian dilakukan proses seleksi administrasi, dan berhasil lolos sebanyak 18 peserta yang memenuhi syarat untuk ikut seleksi wawancara.

“Setelah melalui seluruh proses konvensi secara terbuka dan transparan, maka DPP PSI, hari ini mengumumkan bahwa, pemenang Konvensi Penjaringan Kepala Daerah PSI Kota Tangerang Selatan adalah Bro Muhamad,” kata Isyana, Rabu (6/5/2020). (red)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...