Gadis Korban Kebakaran Rumah di Tangsel Akhirnya Meninggal Dunia

MOTOR DILALAP API ORANG TUA KORBAN JADI PENGANGGURAN

KOTA TANGSEL,PenaMerdeka – Keisya Widyandana (11), satu dari tiga (3) korban kasus pembakaran rumah di Jalan Purnawarman RT 04 RW 02 Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat Timur Kota Tangsel, akhirnya meninggal dunia pada hari Rabu (19/8/2020) pukul 21.20 Wib di RSPAD Jakarta.

Herman (38) ayah Keisya Widyana sekaligus korban juga pada peristiwa nahas yang terjadi pada hari Selasa (4/8) dinihari berangsur pulih.

Hal serupa terkait kondisi luka bakar yang dideritanya bersama orangtuanya bernama Nursiah (61) juga mengalami kondisi yang membaik.

“Tapi akibat peristiwa tragis dengan meninggal dunia anak saya, pada hari Rabu (19/8) pada jam 9.20 malam,” jelas Herman kepada penamerdeka.com, Kamia (20/8/2020).

Menurut dia, ini semua karena tindakan pelaku orang yang membakar rumahnya.

“Saya telah ditinggalkan orang yang paling berharga dan saya sangat sayangi,” ungkap Herman dengan mata sembab, usai pemakaman di halaman rumah duka.

Kerugian tak ternilai jumlahnya, ia rincikan, selain rumah beserta harta benda termasuk motor hangus dan rusak semua.

“Saya juga gak bisa kerja lagi sebagai Go-Jek, karena motor juga rusak terbakar.

Keisya sempat dirawat rumah sakit selama 15 hari, dan perkembangannya tidak membaik, hingga dia akhirnya meninggal dunia.

Dia bersama keluarga berharap kasus ini yang sudah ditangani pihak berwajib, bisa diungkap lebih lanjut, dan pelaku Sutanto dihukum seberat- beratnya.

“Kami berharap pelaku dikenakan pasal yang berlapis, atau setimpallah untuk dia,” ucapnya.

“Tolonglah kepada pihak berwajib, karena anak saya akhirnya ngga tahan dengan luka bakar, meninggal dunia juga,” tuturnya.

Rasa trauma sangat dirasakan keluarga, juga dirasakan para warga tetangga sekitar, dengan meninggalnya Keisya Widyandana.

“Ia anak semata wayang dan teman hidup saya, dan sangat terpukul atas ini semua,” urainya dengan suara parau.

Kenapa musti anaknya yang menjadi sasaran pembakaran pelaku Sutanto, karena persoalan asmara dengan ibunya Keisya.

“Sedangkan dari awal, saya sudah mengikhlaskan hubungan dia berdua, dan rela kalau ibarat mereka berdua mau menikah silahkan, tapi saya mohon jangan ganggu saya dengan anak saya,” cerita Herman merunut ihwal penyebab kejadian.

Herman beranggapan omongannya tak didengar pelaku dan diabaikan.

“Malahan teror ancaman dia mau mencelakai anak saya, dan semua akhirnya terjadi seperti ini. Dan mohon pihak kepolisian, kasus ini pelaku dihukum seberat-beratnya atas perbuatan dia seperti ini,” pintanya. (sg)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Loading...