Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Jadi US$40,67 per Barel

DIDONGKRAK BANYAK PERMINTAAN

JAKARTA,PenaMerdeka – Kementerian ESDM mencatat harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) naik US$2,6 per barel dari US$38,07 menjadi US$40,67 per barel per November 2020. Kenaikan tersebut karena didongkrak membaiknya permintaan minyak di kawasan Asia Pasifik.

Tercatat, permintaan minyak naik dari 12,85 juta barel per hari (bph) pada kuartal II menjadi 12,97 juta bph pada kuartal III. Lalu, meningkat lagi menjadi 13,58 juta bph pada kuartal IV 2020.

Permintaan minyak di kawasan Asia Pasifik meningkat karena pertumbuhan ekonomi China terus membaik, yaitu berada di kisaran 3,2 persen pada kuartal II, dan 4,9 persen pada kuartal III 2020. Kemudian, permintaan minyak juga terjadi di India.

“Selain itu, peningkatan permintaan minyak terjadi di India, utamanya jenis kerosene, gasoline, naphta dan diesel,” tutur Kementerian ESDM dalam keterangan resmi, Rabu (9/12/2020).

Permintaan minyak di kawasan Asia Pasifik juga didukung oleh faktor-faktor lain di pasar internasional.

Mulai dari hasil pemilihan presiden AS, stok minyak di Negeri Paman Sam, hingga kebijakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).

Dari sisi hasil pemilihan presiden AS, investor merespons positif terpilihnya Joe Biden sebagai calon orang nomor wahid di AS. Biden akan menggantikan Donald Trump, Presiden AS saat ini.

Lalu, stok minyak AS menunjukkan penurunan dari 156,2 juta barel menjadi 142,6 juta barel pada November 2020. Pasar juga melihat perkembangan harga minyak mentah dunia yang kompak naik.

Harga minyak mentah Brent meningkat US$2,51 per barel dari US$40,15 menjadi US$42,66 per barel. Minyak WTI naik US$1,80 per barel dari US$39,55 menjadi US$41,35 per barel.

Selanjutnya, harga rata-rata minyak OPEC naik US$2,34 per barel dari US$40,08 menjadi US$42,42 per barel. Sedangkan minyak Brent (ICE) naik US$2,46 per barel dari US$41,52 menjadi US$ 43,98 per barel.

Selain itu, pasar juga mempertimbangkan perkembangan vaksin corona, di mana salah satu produsen, yakni Pfizer mengklaim keampuhan vaksin di atas 90 persen. Pasar juga merespons paket stimulus ekonomi baru dari AS.

Terakhir, pasar mempertimbangkan berbagai kebijakan dan laporan OPEC. Pertama, OPEC memproyeksikan suplai minyak mentah dari negara-negara non-OPEC lebih rendah, yaitu turun 0,05 juta bph pada kuartal III dan menyusut 0,17 juta bpd pada kuartal IV, sehingga secara keseluruhan tahun berkurang 0,06 juta bph.

Kedua, ada tren kenaikan margin kilang pada hampir seluruh kilang di dunia, terutama di Eropa, Asia, dan Amerika. Ketiga, proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, Brasil, dan negara-negara Eropa yang lebih tinggi dari proyeksi awal. Keempat, pasar meyakini OPEC akan memangkas lagi volume produksinya.

“Data dari Baker hughes, jumlah operasional oil rig internasional pada Oktober 656 unit, kondisi ini turun 46 unit dibanding bulan sebelumnya dan jauh lebih rendah 474 unit dibanding tahun 2019,” tulis Kementerian ESDM. (uki)

Disarankan
Click To Comments