BANTEN,PenaMerdeka – Provinsi Banten menurut Andra Soni bakal calon gubernur (Bacagub) Banten 2024-2029, mengantongi prospek bidang pertanian, dan nantinya dapat lagi dikembangkan. Kata anak yang lahir dari darah kandung buruh tani ini, sektor pertanian akan jadi laju andalan peningkatan ekonomi masyarakat Banten.
Setali tiga uang, sesuai dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024-2029, potret kebijakan pusat presiden terpilih 2024-2029 Prabowo Subianto, bersama pemerintah daerah nantinya mengedepankan penambahan produktivitas pangan kerangka target swasembada nasional.
Andra Soni Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Banten yang dalam pemilihan umum gubernur (Pilgub) 2024 berpasangan dengan A Dimyati Natakusumah asal PKS mengatakan, ketahanan pangan secara korelasi membidik capaian Indonesia Emas.
Dia melanjutkan, Tangerang Raya wilayah dengan kepadatan signifikan. Pendapatan ekonomi penduduk di Tangerang rata rata berangkat dari sektor kerja formal atau profesional.
Pertumbuhan Tangerang tumbuh lantaran tercatat wilayah Industri, ada juga geliat sektor jasa dan akhirnya tumbuh pesat properti. Lalu wilayah Tangerang ini bersinggungan dengan Jakarta.
Kondisi ini menurutnya akhirnya menimbulkan kebutuhan akan pasokan pangan yang tinggi. Sebab, pendapatan dominan warga Tangerang apalagi bukan dari sektor pertanian.
“Nah ini artinya Tangerang dan Jakarta butuh sumber kehidupan pangan,” kata Andra Soni kepada penamerdeka.com, Senin (19/8/2024).
“Ini peluang, demand-nya (permintaan pasar, red) sudah ada. Tangerang Raya, Jakarta butuh pasokan beras, sayur mayur dan kebutuhan pangan sehari hari lainnya atau ikan dari nelayan di Banten,” kata Andra.
Banyak orang Banten yang bekerja di Jakarta, atau sebaliknya orang Jakarta yang menetap atau tinggal di Banten, kebutuhan pangannya menjadi tidak bisa dilepaskan.
“12 juta penduduk Banten siang hari, tetapi kalau malam bisa bertambah karena setelah pulang kerja yang di Jakarta. Rata rata kebutuhan perorang kebutuhan berasnya tinggi setiap hari. bisa dikalkulasi kan?” ucap Andra.
FOOD ESTATE UNTUK TANGERANG JAKARTA TARGET PETANI MAKMUR

Secara umum, sekarang ini kendati kita bertetanggaan dengan Jakarta, diakuinya belum ada dampak pemerataan ekonomi untuk wilayah Banten lainnya. Data capaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota kabupaten di Banten dianggap Andra masih tercatat ketimpangan.
“PDRB sektor pertanian di Lebak kurang lebih sekitar 25%. Ini masih bisa dimaksimalkan lagi yang penting semua kompak harus melibatkan unsur pemerintah kota kabupaten, serta pemprov Banten,” tegas Andra Soni.
PDRB pertanian di kota atau kabupaten di Banten masih minim, dengan potensi alam yang ada serta usaha maksimal pemerintah, kedepan potensial akan menjadi lumbung pangan. Di Kabupaten Lebak saja masih ada seluas 331 ribu hektare yang terdapat di 28 kecamatan untuk lahan pertanian reguler dan tadah hujan.
“Untuk pertumbuhan yang merata, butuh kebijakan kuat dan berkeadilan untuk menutup ketimpangan. Kabupaten Lebak, Pandeglang atau Serang harus mendapat perhatian lebih sesuai dengan segmennya. Kalau segmen Tangerang kan tersendiri dan sudah padat tidak ada lahan luas, berbeda kalau di Banten Selatan. Ini yang nanti kita usahakan supaya tumbuhnya perekonomiannya rata. Jadi food estate-nya tetap dari Banten,” bebernya.
KORELASI PEJABAT JANGAN BERBISNIS DAN NIATAN SPENDING GOVERNMENT
Lalu kata Andra, hal ini perlu kemauan keras, termasuk anggaran yang digelontorkan nanti dari APBD Banten harus ditambah, ada prioritas agar fokus menunjang kebutuhan sektor pertanian.
“Kalau pemimpin atau pejabatnya mau cari untung sama rakyatnya ya bahaya! Gak bakal terwujud dan rakyatnya gak maju. Pejabat jangan berbisnis. Ya kita kan tugasnya melayani bukan mau cari untung. Makanya saya dan semua unsur pemprov harus sinergis. Begitu juga nanti untuk mewujudkan ini di kota kabupaten harus linier berusaha keras menjaminkan kebutuhan petani.”
“Harus kencang good will-nya. Saya maksud government spending-nya (anggaran pemerintah, red) ditambah untuk menunjang. Jadi butuh good will. Konektivitas akses di kawasan pertanian harus ditambah dan yang rusak diperbaiki, lahan petani yang kerap kekurangan air harus disudahi, distribusi bibit dan pupuk atau pembiayaan dan alat bercocok tanam harus dipenuhi dan adanya andil pemerintah,” ucapnya.

Tinggal salah satunya kata Andra sementara ini memberdayakan infrastruktur yang sudah ada target menunjang konektifitas distribusi tanam dan hasil pertanian.
“Kita sudah ada akses tol Serang Panimbang. Jalur kereta yang ada dimanfaatkan bisa membawa hasil tani. Kalau sekarang kebutuhan pangan Jakarta Tangerang masih dari Cianjur, Bogor dan tempat lainnya. Akses tol sudah ada. Jarak distribusi sudah dekat. Kedepan dimaksimalkan lagi supaya distribusi pangan ke wilayah Tangerang Raya, Jakarta dan sekitarnya dapat dari Lebak, Pandeglang atau Kabupaten Serang saja,” ungkap Andra.
Persoalan lain juga sempat diuraikannya, bahwa petani juga harus diperkuat dengan jaminan ketersediaan air sepanjang pada masa tanam sebelum panen. Sistem pemeliharaan dan jalur irigasi menuju kawasan pertanian dan ladang atau persawahan belum maksimal alias minim.
Meskipun Banten tegas Andra Soni telah mempunyai fasilitas penunjang seperti embung, waduk, bendungan atau sumber dari air lain seperti dari sungai di masing masing wilayah.
“Embung, Waduk Karian, Bendungan Sindang Heula, Pamarayan dan lainnya harus dimaksimalkan bisa dibangun koneksi air yang bisa tersambung ke lahan untuk disalurkan,” ujarnya.
Secara alam Banten mempunyai banyak kelebihan, ada wilayah pertanian dan lahan pemerintah yang masih bisa dibuka untuk bertani jika dibutuhkan.
Namun hingga kini, persoalan lain yang kerap dan belum mampu diatasi petani adalah maraknya peran tengkulak. Mata rantai ini harus diputus agar hasil panen petani di Banten tidak masuk ke saku tengkulak.
“Insentif petani bukan cuma mencakup soal pupuk saja. Tetapi kebutuhan pendidikan anak petani seharusnya tidak menjadi beban lagi. Karena selama ini pendapatannya tidak maksimal lantas mereka jadi masih berpikir urusan yang lain. Ini kan saudara saudara petani di kita masih mikirin kebutuhan setiap hari, karena misalkan gagal panen, mikirin biaya sekolah anak, mikirin pinjaman hutang ketika dapat bibit pupuk, biaya kesehatan dan lainnya,” beber Andra.
Artinya nanti perihal kebutuhan pendidikan di Banten menjadi hal yang harus direalisasi pemerintah provinsi. Insentif terutama hak dasarnya. Yakni hak dasar rakyat Banten seperti pendidikan dan jaminan kesehatan harus ditanggulangi.
Meningkatkan derajat petani supaya distribusi hasil pertaniannya terjangkau lalu harganya tetap terjaga maka pemerintah harus merealisasi adanya pasar induk regional. Nanti sebagai terminal komoditi hasil pertanian dan disalurkan ke wilayah yang Tangerang atau Jakarta.
Dia juga memprihatinkan kondisi miris yang dialami petani. Akhirnya, menurunkan semangat para anak keturunannya yang enggan meneruskan cita cita mulia menjadi petani. Meskipun nanti dan sekarang pun hidup sangat digantungkan dari pertanian.
“Orang tua tidak rela melepas anaknya menggeluti bertani. Pasalnya untuk berproduksi saja mengandalkan hasil pertanian sekarang sukar menopang ekonomi keluarga.”
“Ghiroh (bertani) ini juga harus dibangkitkan. Insentif dan vokasi petani harus diberikan, beban hidup biaya sekolah kesehatan. Pendapatan dari bertani harus terasa untuk hidup. Makanya nanti diperbanyak sekolah atau misalkan diberikan beasiswa. Kalau perlu di sekolahkan jurusan pertanian biar fokus. Karena usia petani yang sekarang rata rata sudah renta, perlu regenerasi. Lah kalau tidak ada yang meneruskan akan jadi kendala juga kan. Kita (pemerintah, red) harus hadir, dan kerja kongkrit,” tegasnya.
Pasalnya tandas Andra Pemprov Banten telah mempunyai BUMD. Ada Jamkrida, Banten Agro Mandiri, dan Bank Banten. Hanya stigma yang terlihat selama ini soal korupsinya.
Makanya nanti untuk pemberdayaan sektor pertanian ini agar maksimal melibatkan para teknokrat dan unsur lainnya supervisi aparat penegak hukum (APH).
Potensi pertanian di Banten itu ada, tetapi selama ini belum mampu untuk dioptimalkan. Sebab selama ini pula semuanya tidak fokus membenahi dan menyelesaikan persoalannya.
“Kalau kita serius dan mau berjalan. Produsen pangan Jakarta atau Tangerang akan tergantung dari Banten. Yang penting serius agar Banten maju,” tandasnya. (red)







