Gema takbir saling bersahutan melalui pengeras suara masjid dan musala. Dari pusat perkotaan hingga gang-gang sempit perkampungan, alunannya mengalir syahdu memecah keheningan hingga ke pagi hari perayaan Iduladha 1447 Hijriah.

Di pelataran masjid hingga area terbuka lingkungan masyarakat, puluhan hewan kurban berjejer rapi. Namun, ada yang berbeda dari pemandangan tahun ini. Di sebagian besar wilayah, tak ada lagi kantong plastik sekali pakai yang menumpuk.

Tidak ada pula limbah darah yang dibiarkan mengalir liar mencemari sungai hingga aliran kehidupan bumi. Seluruh proses penanganan dirancang begitu selaras dengan alam.

img 20260528 103746
Ilustrasi hewan kurban Hari Raya Iduladha 1447 H. (Dok.net)

Pemandangan ini menjadi potret nyata dari tema besar yang diusung secara nasional pada tahun ini: “Spirit Kurban Merawat Alam dan Kemanusiaan”. Sebuah manifesto bahwa ibadah kurban tidak boleh berhenti menjadi ritual yang mekanis, melainkan sebuah gerakan mencintai bumi sekaligus merangkul sesama manusia melalui tindakan nyata.

Bukan tanpa sebab, esensi hari raya umat Muslim ini merupakan sebuah harmoni dua dimensi yang tidak terpisahkan.

Sebuah momentum emas saat umat Islam mengetuk pintu langit lewat kepatuhan ritual ibadah kurban, lalu turun ke bumi untuk memeluk sesama manusia—tanpa sekat suku maupun agama—melalui pemerataan gizi dan kelestarian lingkungan.

Langit Meminta Takwa, Bumi Menerima Berkah

img 20260528 104906
Menteri Agama, Nasaruddin Umar memeriksa hewan kurban di Masjid Istiqlal Jakarta. (Dok.Kemenag)

Dalam teologi Islam, dimensi vertikal (hubungan dengan Allah) harus selalu melahirkan dampak horizontal (kebaikan di bumi). Penyembelihan hewan kurban merupakan wujud ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta, meneladani keikhlasan agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Namun, Allah SWT secara tegas mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak membutuhkan fisik dari hewan tersebut, melainkan esensi ketulusan hati hamba-Nya:

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridaan)-Nya adalah ketakwaan kamu…”

— (QS. Al-Hajj: 37)

Ketika ketakwaan tersebut telah mengetuk pintu langit, manifestasinya di bumi adalah memeluk sesama dengan kepedulian sosial yang mempererat harmonisasi kehidupan berdampingan.

img 20260528 104027
Pemotongan hewan kurban di Masjid Al Azhom, Kota Tangerang, Banten. (Hisyam/PenaMerdeka)

Rasulullah SAW semasa hidupnya sangat menekankan agar umatnya yang memiliki kelapangan harta tidak abai terhadap kesejahteraan sekelilingnya. Beliau pun bersabda:

“Siapa yang memiliki kelapangan (harta) tapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”

— (HR. Ahmad dan Ibnu Mahjah)

Melalui hadis ini, Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa mengikis ego kepemilikan materi dan membagikannya kepada sesama adalah syarat mutlak kesalehan yang berdampak bagi kemanusiaan.

Merawat Alam, Memeluk Kemanusiaan

img 20260528 103916
Penyerahan hewan kurban milik Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Banten Andra Soni untuk warga Kota Tangerang. (Dok.Pemprov Banten)

Menyelaraskan dengan tema nasional, Masjid Istiqlal Jakarta menerjemahkan “Spirit Merawat Alam” dengan memastikan sistem pembuangan limbah kurban dikelola secara ramah lingkungan dan bebas plastik.

Bumi adalah amanah yang harus dijaga, sehingga ibadah kurban yang suci tidak boleh menodai alam yang diciptakan Allah SWT dalam keadaan seimbang. Kesadaran lingkungan ini kini menular, menjadi tren hijau di berbagai masjid daerah.

Sementara dalam dimensi “Merawat Kemanusiaan”, pelukan hangat Iduladha pada tahun ini mewujud nyata melintasi batas-batas perbedaan iman. Semangat berbagi itu membuktikan tidak semua hewan yang dititipkan berasal dari umat Islam.

Di Masjid Istiqlal misalnya, panitia menerapkan tiga kategori pengelolaan: hewan kurban, Dam, dan bantuan sosial.

Menariknya, dari puluhan hewan yang diterima, sebagian mengalir dari masyarakat umum serta institusi keagamaan lain, termasuk dari tetangga seberang jalan, Gereja Katedral Jakarta.

img 20260528 103842
Penyerahan hewan kurban dari Gereja Katedral ke Masjid Istiqlal, Jakarta. (Dok.istiqlal)

Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, saat berada di pelataran Masjid Istiqlal menjelaskan bahwa esensi perayaan Iduladha tidak sekadar menjalankan ritual ibadah, melainkan momentum saling berbagi.

Sehingga, seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan dan pemenuhan nutrisi yang sama.

“Kita berharap melalui momentum ini, semua orang bisa mencicipi gizi hewani, baik melalui jalur ibadah kurban maupun skema bantuan sosial seperti yang kita lakukan,” tuturnya.

Menag mengapresiasi tinggi keterlibatan saudara-saudara non-Muslim yang ikut menyerahkan hewan. Secara hukum Islam, ibadah kurban memang diwajibkan bagi Muslim yang mampu.

Namun, fakta bahwa masyarakat non-Muslim ikut andil menunjukkan tingginya kesadaran sosial untuk membantu sesama di tengah tingginya permintaan daging kurban.

“Kami sangat mengapresiasi toleransi dan kepedulian sosial ini,” kata Menag.

Fenomena tersebut membuktikan bahwa ketika urusan gizi dan kemanusiaan dikedepankan, sekat-sekat perbedaan seketika mencair. Esensi Iduladha terbukti berhasil menggerakkan solidaritas lintas iman untuk memastikan tidak ada satu pun masyarakat yang merayakan hari bahagia ini dalam keadaan lapar.

Senyum yang Merata

img 20260528 104929
Pendistribusian daging hewan kurban. (Dok.Baznas)

Melalui tiga skema pengelolaan yang transparan—kurban konvensional, penyaluran Dam jemaah haji, hingga bantuan sosial (CSR)—daging kurban didistribusikan secara akuntabel ke panti asuhan, pesantren, hingga masyarakat prasejahtera.

Kini, aroma kuah daging bercampur bumbu khas Nusantara yang gurih bakal menggoyang lidah mulai menguar dari dapur-dapur kecil di penjuru kota hingga pelosok daerah. Hidangan tersebut tak ayal menjadi hilir yang manis dari indahnya ibadah ini.

Pada akhirnya, Iduladha 1447 H kembali memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa setelah dahi menempel di sajadah untuk mengetuk pintu langit, tugas suci berikutnya adalah melangkah keluar, menjaga kelestarian bumi, dan memeluk kemanusiaan dengan cinta yang nyata dan merata.

Penulis: HisyamEditor: Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *