PenaMerdeka – Fadjroel Rachman, Komisaris Utama PT Adhi Karya menyampaikan melalui akun Twitter miliknya @fadjroel ungkapan syukur dan terima kasih kepada KH, Mustofa Bisri (Gus Mus) yang bersedia menemui Pandu wijaya, seperti pantauan tim PenaMerdeka, sabtu (26/11).
Melalui akun Twitter Gerakan Pemuda Ansor Kraksaan @ansorkraksaanpc mengunggah photo pertemuan tersebut. Dalam pertemuan itu Pandu terlihat duduk dengan memakai peci dan berkemeja putih. Ia duduk bersama dengan ibu dan seorang saudara yang mendampinginya.
Dengan gaya khasnya yang di kenal santun dan akrab Gus Mus duduk bersila menemui Pandu Wijaya dan ibunya. Terpantau dari photo tersebut Gus Mus tersenyum ramah walaupun duduk dihadapannya seorang yang telah menghina dirinya dengan kasar.
Foto postingan Ach Khumaedi Mbfi yang diunggah Fadjroel menyebut, Pandu sadar akan ucapannya yang telah menghina Gus Mus, ia pun meminta maaf dan sadar telah berlaku salah.
Sebelumnya KH Mustofa Bisri telah angkat bicara terkait penghinaan yang dilakukan oleh Pandu Wijaya itu. Menurut Gus Mus, tidak ada yang perlu dimaafkan atas perlakuan tidak pantas yang diterimanya dari pemuda itu. Ucapkan itu disampaikan melalui akun Twitter-nya @gusmusgusmu menjawab permohonan maaf yang disampaikan Komisaris Utama PT Adhi Karya Fadjroel Rachman.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda,” tulis Gus Mus sambil menyertakan emoticon smile. Gus Mus bahkan memohon kepada Fadjroel agar tidak melakukan pemecatan kepada Pandu. Memang saat itu banyak netizen yang menyuarakan agar Pandu diberhentikan dari pekerjaannya diperusahaan flat merah itu.
Dengan adanya kasus ini Gus Mus berharap dapat dijadika pelajaran. Beliau meminta agar orang jangan mudah emosi dan marah jika ada orang lain menhina atau merendahkan.”Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu, janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan,” ujar Gus Mus.
Kasus ini bermula saat Gus Mus melakukan kultwit di Twitter lewat akun @gusmusgusmu. Gus Mus bicara soal rencana Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI melakukan aksi salat Jumat di jalan protokol Jakarta pada Jumat, 2 Desember 2016. Gus Mus berharap aksi salat Jumat di jalan itu tidak dilakukan massa karena dinilainya merupakan bid’ah besar.
“Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasullullah SAW baru kali ini ada bid’ah sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran,” cuit Gus Mus pada 23 November 2016 pukul 16.46 WIB. Cuitan itu pun direspons Pandu lewat akun Twitternya @panduwijaya_ yang kini telah di protect.
“@gusmusgusmu Dulu gk ada aspal Gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasullullah hijrah ke Madinah. Bid’ah ndasmu!” tulis Pandu di akunya.
Tweet dari Pandu dikecam banyak netizen karena dianggap sangat kasar memaki seorang ulama yang di hormati. Akibat perbuatanya yang dinilai melakukan pelanggaran berat dan merugikan nama baik perusahaan itu, PT Adhi Karya memberikan SP3 kepada Pandu Wijaya. (agus/dbs)







