Sistem UN 2016, Relevan dengan Semangat Pendidikan

53

PenaMerdeka – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Dasar-Menengah RI sejak tahun lalu sudah memutuskan ujian nasional tidak akan lagi menjadi satu-satunya standar kelulusan siswa.

Disambut optimistis oleh praktisi pendidikan karena sejalan dengan tujuan menciptakan generasi handal.

“Diberlakukannya sistem kelulusan bukan dengan angka, saya sangat setuju karena ada warna baru, siswa tidak stres lagi kalau menghadapi UN, dan sekali lagi, bahwa motorik, kongnitif serta afektif lah yang menjadi bagian penting dalam sistem pembelajaran. Jadi itu yang kita pacu,” kata H. Arbani, Kepala SMA Negeri 3, Kota Tangerang beberapa waktu lalu kepada Pena Merdeka.

Jadi ada 3 aspek dalam proses pengembangan belajar siswa yang perlu diperhatikan, yakni kongnitif, motorik dan afektif.

Lebih dalam H. Arbani mengungkapkan, sekarang ini manejemen sekolah harus bisa mepola karakter siswa agar bisa lebih baik. Makanya kedepan kami pihak sekolah akan menitikberatkan pemberian sisi edukatif kepada siswa. Program tersebut akan di agendakan pada bulan April 2016 mendatang.

“Sekolah tidak menjalankan program yang potensinya bersinggungan dengan fisik siswa ketika membentuk karakternya. Apalagi sekarang bisa bahaya mas kalau diperlakukan seperti itu, karena kerap berhadapan dengan hukum. Orangtua siswa gampang saja melaporkan kepada pihak berwajib,” ujar H. Arbani menjelaskan.

Sejatinya untuk sekolah unggulan seperti SMAN 3 sedikit dimudahkan untuk membentuk karakter siswanya, sebab ketika mereka menempuh pendidikan disini sudah terselektif. “Mereka juga siswa unggulan. Dan datang sebagai siswa unggulan, jadi dari situ rumusan yang dimudahkannya.”

Tetapi menurut H.Arbani, setiap sekolah memang harus memberikan pelayanan yang bagus. SMAN 3 ini tidak sekonyong konyong lantas mendapat gelar sekolah unggulan. Tetapi karena bisa mencetak beberapa kemajuan dari bidang pendidikan yang bagus bisa diterapkan disini. Sehingga sekolah ini menjadi pilihan bagi siswa yang potensial.

Makanya masih ada korelasinya ketika kita sudah mengajarkan kejujuran kepada.siswa lantas kedepan sistem pelaksanaan ujian semuanya berbasis online.

“Karena kalau pakai sistem online siswa tidak bisa kasak kusuk atau lihat kanan kiri buat mencontek kan,” pungkas H. Arbani. (thohir)

Bahkan siswa bisa menempuh ujian nasional berkali-kali untuk memperbaiki pencapaiannya bila belum memenuhi standar.

“Anak-anak yang hasil ujian nasionalnya kurang diberi kesempatan memperbaiki dengan ujian ulang,” kata Anies.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Disarankan
Dwi Nopriandi
Ahmad Jazuli
Loading...