Identik Asusila, Seni Cokek Disebut tak Cocok dengan Moto Kota Tangerang

by 2017-10-12 0 comments

Seni Cokek dianggap tidak cocok

KOTA TANGERANG,PenaMerdeka – Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang menyebut belum mengakui seni Cokek sebagai unsur budaya asal kota berjuluk Akhlakul Karimah. Sebab seni tarian Cokek lebih menyodorkan kesan negatif.

Maka itu eksistensi tari cokek berisi jauh dari nilai budaya yang lazim. Lantaran alias didalamnya kerap menyajikan pembauran unsur asusila dan dipastikan ada dari kalangan masyarakat tertentu yang menikmati selingan pesta minuman keras.

Ditegaskan Disbudpar Kota Tangerang, seni cokek tidak sesuai dengan moto Kota Tangerang sendiri yang berakhlaqul karimah.

Menurut Sudadi Kabid Kebudayaan pada Disbudpar Kota Tangerang saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, seni tarian Cokek sejatinya perpaduan unsur musik gambang kromong disertai adanya sejumlah penari wanita.

Hanya saja ia mengaku kurang sepakat kalau menjadikan seni cokek sebagai salah satu budaya yang tercatat dan dilestarikan lantaran di dalamnya sering dijadikan ajang transaksi seks.

“Selain ada ajang asusila namun ada pesta minuman keras juga. Ini bertabrakan dengan moto Akhlaqul Karimah yang di sandang Kota Tangerang. Jadi tidak bagus,” katanya menegaskan.

Menurut Sudadi, kalau soal asal muasal bahwa ada yang mengatakan memang berasal dari Tangerang. Dan dilestarikan juga secara tidak orang lokal penduduk Cina Benteng.

“Pelestariannya memang secara tidak langsung ada. Saat ini seni Cokek masih eksis di beberapa rumah kawin yang ada di Kota Tangerang,” ucap Sudadi.

Terkait dengan nilai seni tarian Cokek sendiri menurut informasi dari penggiat budaya yang berhasil ditemui PenaMerdeka.com bahkan tarian ini sudah mempunyai sertifikat langsung dari Kementrian Kebudadayaan Republik Indonesia.

Disitu disebutkan bahwa tarian Cokek merupakan kebudayaan asal Tangerang Raya.

Namun, kembali Dinas Budpar menyatakan belum menerima sertifikat atas seni Cokek tersebut. Dan belum mengetahui kalau cokek sudah di sahkan dan sudah ditetapkan menjadi kebudayaan asli asal Tangerang Raya.

“Selama sembilan bulan saya menjabat di sini saya belum pernah menerima atau melihat sertifikat atas seni cokek itu mas,” kata Sudadi menjelaskan. (yuyu)

Bagikan Artikel ini

Komentari Berita Ini

Tidak ada komentar

Melompat ke kolom komentar

Belum ada komentar!

Anda dapat menjadi orang pertama yang menulis komentar.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.