Diskusi GPII Ungkap Peran Opini Media dan 3 tahun Kerja Jokowi-JK

kerja Jokowi-JK pipres

KOTA SERANG – Setelah menjadi pasangan Presiden dan Wakil Presiden, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla sepanjang hampir kurang lebih tiga tahun menjelang Pilpres 2019 sejumlah pengamat menyatakan sudah mengantongi poin kerja Jokowi-JK.

Menurut A. Jazuli Abdillah nara sumber Focus Grup Discussion bertema ‘Opini Vs 3 Tahun Kinerja Pemerintah’ yang digagas Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Provinsi Banten di Kampus UIN Serang, Kamis, (26/10) menyebut bahwa sampai hari ini tidak ada satupun lembaga survey yang menyatakan kinerja pemerintahan Jokowi-JK gagal.

Bahkan kata Presidium KAHMI Provinsi Banten ini menyatakan kerja Jokowi-JK memuaskan. Maka itu dihadapan ratusan peserta FGD, dirinya mengajak bagaimana cara melihat suatu opini bisa terjadi.

“Kalau survey, opini itu berangkat dari metode penelitian kuantitatif,” ucapnya.

Jazuli lebih jauh menjelaskan, metode yang ditempuh oleh lembaga survei dalam penilaian opini publik yaitu kuantitatif pendekatannya pada responden yaitu menanyakan langsung kepada masyarakat.

“Ketika bertanya kepada masyarakat, jawabannya ini rata-rata puas semua,” kata jazuli.

Sepintas menurutnya memang sangat tidak logis menilai kerja Jokowi-JK karena dari ratusan juta masyarakat apabila yang ditanyakan oleh lembaga survey terhadap responden hanya 1300 jiwa untuk mengkonfirmasi sebuah keberhasilan dan kegagalan kepemimpinannya.

Lain halnya dengan metode Kualitatif yaitu hanya dalam bentuk kajian saja. “Si peneliti yang berpendapat,” ucapnya.

Namun demikian ucap Jazuli, di era modern tidak dipungkiri seperti sekarang, media sebagai sarana untuk mempengaruhi orang lain. Pemerintahan saat ini pun pasti mengklaim bahwa media yang eksis dan profesional mampu menjadi sarana informasi sekaligus membangun opini.

“Tetapi seharusnya media juga memberikan informasi yang seimbang soal kerja Jokowi-JK. Antara yang sudah di kerjakannya dan yang belum tercapai. Harus fair juga lah,” tandasnya.

Di tempat sama Acep Helmi Pengamat Kebijakan Publik mengatakan, pemerintahan Jokowi-JK jika melihat kebelakang itu adalah pertempuran opini dari media dan bagaimana Jokowi lahir sebagai kandidat terkuat Presiden adalah hasil kedikdayaan media.

Kata dia menegaskan, terlepas dari kerja Jokowi-JK, sejatinya Jokowi lahir hasil dari kemampuan sebuah opini dari media, berangkat dari Walikota di daerah yang jauh dari Jakarta tiba-tiba dengan hebatnya menang di Pilgub Jakarta.

“Itu lantaran adanya pergerakan untuk membentuk opini. Bagaimana timnya merancang sebuah opini bahwa saat itu Jakarta membutuhkan pemimpin yang seperti Jokowi,” terang Acep.

Termasuk ketika untuk menjadi Presiden terbentuk suatu opini bahwa hari ini pemerintah itu harus dekat dengan rakyat dan turun langsung ke rakyat karena pada periode sebelumnya terkesan elitis.

“Media cetak, media elektronik dan media sosial begitu menghegomoni, begitu mengagungkan Jokowi, setiap langkahnya terpantau oleh media, untuk melihatnya sangat mudah, cuma lihat HP saja kemudian buka Youtube lalu kita dapat melihat apa yang dikerjakan oleh Jokowi,” tandas mantan aktivis BEM Fisip Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Ketua PW GPII Banten Iman Fauzi beharap, dengan diadakannya FGD tersebut bisa memberikan saluran bagi mahasiswa dan pemuda untuk mengkritisi secara konstruktif terkait kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini.

Kegiatan ini sengaja diinisiasi untuk memberikan penilaian yg objektif terkait isu-isu kekinian. “Dengan banyaknya isu-isu atau informasi yang sifatnya provokatif, hoaks dan agitatif bisa diminimalisir bahkan dicegah,” tegasnya. (rhn)

 

Disarankan
Click To Comments